Sport

Sepak Bola Korea Selatan di Ujung Tanduk: Rotasi Kontroversial Kim Ki-dong dan Kekalahan Memalukan dari Persib Bandung

Sepak Bola Korea Selatan di Ujung Tanduk: Rotasi Kontroversial Kim Ki-dong dan Kekalahan Memalukan dari Persib Bandung
Sepak Bola Korea Selatan di Ujung Tanduk: Rotasi Kontroversial Kim Ki-dong dan Kekalahan Memalukan dari Persib Bandung
A− A+

Fokus Surabaya – Sepak bola Korea Selatan tengah menghadapi badai kritik setelah kekalahan mengejutkan FC Seoul dari Persib Bandung di ajang AFC Champions League 2. Kekalahan 0-1 di Stadion Piala Dunia Seoul, Rabu (16/9/2026), tidak hanya mencoreng nama besar K-League, tetapi juga memicu perdebatan sengit tentang transparansi pemilihan pelatih dan manajemen tim. Publik mempertanyakan keputusan pelatih Kim Ki-dong yang melakukan rotasi besar-besaran dengan menurunkan pemain muda, termasuk siswa SMA, dalam laga bergengsi tersebut.

Kim Ki-dong, yang memiliki rekam jejak panjang sebagai pemain dan asisten pelatih Timnas Korea Selatan, mengambil langkah berani dengan mengistirahatkan pemain bintang seperti Kim Jin-soo, Gu Seong-yun, Babet, dan Ross. Sebagai gantinya, ia memberikan kesempatan kepada pemain muda seperti Ko Pil-kwan (19 tahun) dan Shin Ji-seop (18 tahun), yang bahkan masih berstatus siswa kelas tiga SMA Osan. Keputusan ini diambil dengan alasan jadwal kompetisi domestik yang padat menjelang akhir musim. “Sejujurnya para pemain muda ini jarang berlatih bersama saya. Pemain-pemain dari tim muda harus jadi tulang punggung Seoul. Mereka adalah pemain-pemain terbaik di Osan High School. Tapi ini baru awal. Mereka harus berusaha di level profesional, dan kompetisi baru mulai,” ujar Kim Ki-dong dalam sesi jumpa pers.

Baca juga:

Namun, strategi tersebut berbuah pahit. FC Seoul harus tertinggal cepat ketika pertandingan baru berjalan lima menit. Berawal dari sepak pojok, Marc Klok mengirim bola ke area pertahanan yang disambut Julio Cesar, bek Persib, dengan kaki kanan untuk membawa Maung Bandung unggul 1-0. Meski Kim Ki-dong melakukan perubahan selepas turun minum dengan memasukkan Son Jung-bum, Moon Seon-min, dan Jeong Ha-won, FC Seoul tetap kesulitan menyamakan kedudukan. Media Korea Selatan, The Chosun Daily, menilai perubahan berani Kim Ki-dong berakhir dengan kegagalan total.

Kekalahan ini memicu reaksi keras dari penggemar dan pengamat sepak bola Korea Selatan. Banyak yang menilai bahwa keputusan Kim Ki-dong tidak hanya merugikan tim, tetapi juga mencerminkan masalah lebih dalam dalam sistem pembinaan dan manajemen sepak bola Korea. “Sepak bola Korea Selatan sudah mati,” demikian komentar pedas yang muncul di media sosial, menyoroti kekecewaan terhadap pemilihan pelatih yang dianggap tidak transparan dan kurangnya komunikasi dengan publik.

Rekam jejak Kim Ki-dong sendiri sebenarnya cukup mumpuni. Ia pernah menjadi asisten pelatih Timnas Korea Selatan U-22 dan U-23, serta asisten pelatih Timnas Senior di bawah Shin Tae-yong. Di level klub, ia menangani Pohang Steelers dari 2019 hingga 2023 sebelum akhirnya bergabung dengan FC Seoul. Namun, keputusannya untuk menurunkan pemain muda dalam laga ACL 2 dianggap sebagai bentuk eksperimen yang tidak bertanggung jawab.

Baca juga:

Kontroversi ini juga menyoroti tekanan besar yang dihadapi klub-klub K-League akibat jadwal padat dan minimnya rotasi pemain. FC Seoul, yang dijuluki ‘Dark Red Warriors’, harus memutar otak untuk menjaga kebugaran skuad utama. Namun, langkah tersebut justru mempermalukan mereka di kancah Asia. Persib Bandung, yang tampil disiplin, berhasil memanfaatkan peluang dan membawa pulang tiga poin berharga dari Seoul.

Pertanyaan besar kini muncul: apakah ini saatnya evaluasi total bagi sepak bola Korea Selatan? Pemilihan pelatih yang transparan, manajemen tim yang lebih baik, dan pengembangan pemain muda yang terencana menjadi tuntutan utama. Tanpa perbaikan mendasar, predikat ‘sepak bola Korea Selatan sudah mati’ bisa jadi bukan sekadar hiperbola, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi.

Kekalahan dari Persib Bandung menjadi alarm bagi FC Seoul dan K-League secara keseluruhan. Rotasi pemain yang tidak tepat, komunikasi yang buruk, dan kurangnya kesempatan bagi pemain muda di level tertinggi menjadi sorotan. Jika tidak segera dibenahi, sepak bola Korea Selatan berisiko kehilangan pamor di Asia. Masyarakat menuntut perubahan, mulai dari pemilihan pelatih yang transparan hingga strategi yang lebih matang. Hanya dengan begitu, masa depan sepak bola Korea Selatan bisa kembali bersinar.

Baca juga:

Mungkin Anda Suka