Fokus Surabaya – Villarreal kembali menelan pil pahit di ajang LaLiga. Kekalahan dari Real Betis di Estadio de la Ceramica menjadi pukulan telak bagi tim berjuluk Submarino Kuning tersebut, yang kini terpuruk di posisi antependua klasemen dengan hanya mengoleksi dua poin dari enam pertandingan. Situasi ini memicu kekhawatiran besar di lingkungan klub dan memunculkan pertanyaan serius mengenai masa depan pelatih Iñigo Pérez.
Kekalahan atas Real Betis merupakan kekalahan ketiga Villarreal di kompetisi liga musim ini, ditambah satu kekalahan menyakitkan di ajang Liga Champions saat bertandang ke markas Borussia Dortmund. Hasil-hasil buruk ini membuat jarak dengan rival-rival utama semakin melebar. Betis, yang diyakini akan menjadi pesaing langsung dalam perburuan tiket Liga Champions musim depan, kini unggul sepuluh poin atas Villarreal. Sementara itu, Alavés, Atlético Madrid, dan Sevilla juga telah menjauh dengan keunggulan delapan poin.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Iñigo Pérez mengakui bahwa dirinya tengah menghadapi masa sulit. “Saya tidak memberikan performa yang seharusnya, saya perlu merenung,” ujarnya dengan nada kecewa. Pernyataan tersebut semakin memperkuat spekulasi bahwa posisinya sebagai pelatih kepala sedang dalam bahaya besar.
Menariknya, situasi yang dihadapi Villarreal saat ini sangat mirip dengan dilema yang pernah terjadi pada era kepemimpinan Ernesto Valverde. Saat itu, manajemen memutuskan untuk memercayakan tongkat estafet kepelatihan kepada Valverde, seorang pelatih muda yang memiliki proyeksi cerah, setelah berakhirnya era Manuel Pellegrini. Valverde datang dengan ide permainan menekan tinggi dan intensitas fisik yang tinggi, namun kesulitan menerapkan filosofinya kepada skuad yang terbiasa mendominasi pertandingan melalui penguasaan bola.
Seperti halnya Valverde, Iñigo Pérez juga menghadapi tantangan serupa. Ia ingin membangun tim yang agresif menekan dan bermain intens, tetapi para pemain masih terbawa pola permainan sebelumnya di bawah asuhan Marcelino yang lebih mengandalkan penguasaan bola dan kontrol permainan. Akibatnya, tim kesulitan menemukan konsistensi dan rentan kehilangan poin di momen-momen krusial.
Meski demikian, manajemen Villarreal dikabarkan masih memberikan kepercayaan penuh kepada Iñigo Pérez. Mereka menyadari bahwa proses adaptasi membutuhkan waktu dan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Namun, tekanan dari luar semakin besar, terutama karena posisi tim yang berada di zona degradasi. Jeda kompetisi internasional dipandang sebagai momentum berharga untuk memperkuat fondasi taktik yang telah dibangun selama pramusim.
Di sisi lain, pertandingan antara Villarreal dan Real Betis juga menyisakan cerita tersendiri. Sebelum kick-off dimulai, para pemain dari kedua tim turun ke lapangan dengan mengenakan kaus bertuliskan slogan “Todos somos caballas” atau “Kita semua adalah caballas”, sebuah julukan bagi penduduk Ceuta. Aksi solidaritas ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap warga Ceuta di Spanyol setelah lebih dari 70.000 orang melakukan penyeberangan tidak teratur dari Maroko ke wilayah Afrika Utara tersebut pada bulan Juli lalu.
Namun, aksi tersebut justru memicu kontroversi bagi salah satu pemain Real Betis, Ez Abde. Pemain sayap berusia 24 tahun itu mendapat gelombang komentar negatif di media sosial karena dianggap mendukung Ceuta. Abde, yang lahir di Beni Mellal, Maroko, dan pindah ke Spanyol bersama keluarganya pada usia tujuh tahun, memilih untuk membela tim nasional Maroko dan telah mencatatkan 37 penampilan internasional sejak debutnya pada September 2022.
Menanggapi kritik yang ia terima, Abde dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak akan meminta maaf. Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, ia menjelaskan bahwa kaus tersebut tidak dimaksudkan untuk tujuan politik atau bentuk ketidakhormatan terhadap rakyat Maroko. “Itu adalah kaus dengan tujuan sosial, dimaksudkan untuk mendukung sebuah komunitas,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa siapa pun yang ingin meragukan kecintaannya pada tanah airnya dipersilakan, namun ia akan tetap menjalani hidup dengan kepala tegak.
LaLiga dan Real Betis sendiri memberikan dukungan penuh kepada Abde setelah pernyataannya tersebut. Sikap tegas pemain yang akrab disapa Abde ini menunjukkan bahwa isu sosial dan politik kerap kali menjadi bumbu dalam dunia sepak bola, terutama ketika menyangkut identitas dan loyalitas seorang pemain terhadap negara asalnya.
Bagi Villarreal, fokus utama saat ini adalah segera bangkit dari keterpurukan. Dua pertandingan krusial menanti, yaitu melawan Málaga pada hari Kamis dan Levante pada hari Minggu. Kemenangan menjadi harga mati untuk mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan meredam tekanan yang terus menggunung. Manajemen berharap Iñigo Pérez mampu menemukan formula yang tepat untuk membangkitkan kembali performa tim sebelum situasi semakin tidak terkendali.
Dengan kondisi klasemen yang semakin tidak menguntungkan, Villarreal dituntut untuk segera berbenah. Kegagalan meraih hasil positif dalam beberapa laga ke depan bisa berujung pada keputusan drastis dari manajemen, seperti yang pernah terjadi pada Valverde beberapa tahun silam. Sepak bola memang tidak pernah lepas dari tekanan, dan kini Iñigo Pérez berada di pusat sorotan untuk membuktikan bahwa ia layak memimpin Submarino Kuning keluar dari badai krisis.








