Sport

Dramatis, Alexandra Eala Gagal ke 16 Besar US Open 2026 Usai Dikalahkan Iva Jovic, Terancam Sanksi WTA karena Pilih Asian Games

Dramatis, Alexandra Eala Gagal ke 16 Besar US Open 2026 Usai Dikalahkan Iva Jovic, Terancam Sanksi WTA karena Pilih Asian Games
Dramatis, Alexandra Eala Gagal ke 16 Besar US Open 2026 Usai Dikalahkan Iva Jovic, Terancam Sanksi WTA karena Pilih Asian Games
A− A+

Fokus Surabaya – JAKARTA – Petenis Filipina Alexandra Eala harus mengubur impiannya untuk melangkah ke babak 16 besar US Open 2026. Dalam pertandingan dramatis yang berlangsung di Billie Jean King National Tennis Center, New York, Eala menyerah tiga set dari petenis Amerika Serikat, Iva Jovic, dengan skor 6-4, 3-6, 4-6, Selasa (15/9) waktu setempat. Kekalahan ini sekaligus mengakhiri perjalanan impresifnya di turnamen grand slam tersebut.

Meski gagal, penampilan Eala di US Open 2026 tetap mencuri perhatian. Ia sebelumnya sukses melewati dua babak kualifikasi dan menumbangkan unggulan 25 asal Kroasia, Petra Martic, di putaran kedua. Nama Eala pun semakin diperbincangkan di jagat tenis internasional sebagai salah satu pemain muda potensial dari Asia Tenggara.

Baca juga:

Namun, fokus Eala kini terbagi. Ia dihadapkan pada konsekuensi dari keputusannya memilih memperkuat Filipina di Asian Games 2026 yang akan berlangsung di Jepang, ketimbang tampil di China Open di Beijing. Padahal, China Open merupakan turnamen WTA 1000 yang masuk dalam kategori wajib bagi pemain dengan peringkat tertentu. Akibatnya, Eala berpotensi menerima sanksi dari WTA berupa nol poin untuk turnamen tersebut dan denda sebesar USD 10.000 atau sekitar Rp167 juta.

Keputusan Eala ini bukan tanpa alasan. Ia menilai kesempatan mewakili Filipina di Asian Games yang digelar empat tahun sekali terlalu penting untuk dilewatkan. Sebelumnya, Eala telah menyumbangkan dua medali perunggu Asian Games dan medali emas SEA Games 2025 untuk negaranya. “Saya merasa terhormat bisa membela Filipina. Ini momen yang tidak bisa digantikan,” ujar Eala dalam pernyataan resminya.

Asosiasi Tenis Filipina (PHILTA) pun bergerak cepat. Mereka telah menghubungi WTA secara resmi untuk meminta pengecualian agar Eala tidak dikenai sanksi. Sekretaris Jenderal PHILTA, John Tiangco, menyatakan pihaknya mendukung penuh keputusan Eala dan berupaya memastikan pilihannya memperkuat Filipina tidak berdampak buruk terhadap kariernya di WTA. “Kami sedang berkomunikasi dengan WTA. Kami berharap mereka memahami situasi ini,” kata Tiangco.

Sementara itu, Eala telah memastikan Singapore Tennis Open sebagai turnamen berikutnya sebelum bergabung dengan tim Filipina untuk Asian Games. Jadwal padat ini menuntut fisik dan mental yang prima dari petenis berusia 21 tahun tersebut.

Baca juga:

Dalam konteks aturan WTA 2026, pemain dengan peringkat tertentu diwajibkan mengikuti turnamen WTA 1000. Ketidakhadiran tanpa alasan yang diterima dapat berujung pada sanksi. Namun, WTA belum memberikan pernyataan resmi terkait permohonan pengecualian dari PHILTA. Jika sanksi tetap dijatuhkan, ini bisa menjadi pukulan telak bagi Eala yang sedang menanjak naik.

Pengamat tenis nasional, Rina Wijaya, menilai keputusan Eala adalah pilihan sulit antara karier dan negara. “Ini dilema klasik. Di satu sisi, dia ingin membela negara; di sisi lain, ada konsekuensi dari regulasi WTA. Yang penting adalah bagaimana dia dan timnya menyikapi ini,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Eala sendiri mengaku tetap fokus pada Asian Games. “Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Filipina. Soal sanksi, itu urusan manajemen dan federasi,” tegasnya.

Kegagalan di US Open 2026 memang menyakitkan, tetapi perjalanan Eala masih panjang. Dengan potensi yang dimilikinya, ia diyakini mampu bangkit dan bersaing di level tertinggi. Publik Filipina pun berharap Eala dapat mengukir prestasi di Asian Games dan kembali bersinar di turnamen WTA berikutnya.

Baca juga:

Ke depan, keputusan WTA terkait permohonan PHILTA akan menjadi sorotan. Jika pengecualian diberikan, Eala bisa bernapas lega. Namun, jika tidak, ia harus menerima konsekuensinya dan tetap melangkah. Yang jelas, semangat juang Eala untuk membela negaranya patut diapresiasi.

Dengan segala dinamika yang terjadi, nama Alexandra Eala semakin melekat di hati penggemar tenis, bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga karena keberaniannya mengambil keputusan yang tidak populer demi Merah-Putih Filipina.

Mungkin Anda Suka