Fokus Surabaya – Jakarta – Proses pengalihan saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh ke pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi memasuki tahap finalisasi. Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu, Evita Manthovani, menyatakan bahwa skema pengalihan telah ditetapkan dan tengah dilakukan uji tuntas serta valuasi nilai saham secara paralel.
“Pengalihan saham PT PSBI ke pemerintah melalui Kementerian Keuangan saat ini masih dalam proses finalisasi,” ujar Evita dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (18/9).
Pemerintah berencana mengambil alih 60 persen saham KCIC yang selama ini dikuasai konsorsium BUMN melalui PSBI. Sementara 40 persen saham sisanya tetap dipegang oleh konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Target penyelesaian pengalihan adalah pertengahan September 2026, dan per 15 September 2026 Kemenkeu resmi mengambil alih tanggung jawab pembayaran utang proyek tersebut.
Evita menegaskan bahwa pengalihan ini tidak akan melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara langsung. “Tentunya ini sesuai dengan harapan, tidak dengan melibatkan APBN secara langsung dalam pemenuhan kewajiban PT PSBI,” katanya.
Untuk memastikan proses berjalan transparan dan terukur, Kemenkeu tengah memetakan beberapa aspek, antara lain finansial, bisnis, operasional, dan hukum. “Saat ini di Kementerian Keuangan sedang berjalan due diligence dan juga evaluasi nilai saham terhadap saham PSBI yang akan dialihkan,” ucap Evita. Secara paralel, Kemenkeu juga menyusun rancangan peraturan presiden (perpres) dan berkoordinasi dengan BP BUMN serta BPI Danantara.
Di sisi lain, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyatakan masih menunggu hasil kajian Kemenkeu terkait pengalihan utang Whoosh. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengaku belum bisa terlibat dalam proses tersebut karena masih dalam tahap pengkajian. “Kan sudah dikatakan Pak Menteri Keuangan mau dipindahkan ke sana (Kemenkeu). (Sekarang) sedang dikaji oleh Kementerian Keuangan, kami mengikuti saja,” ujar Bobby saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (23/9).
Bobby berharap pengalihan tanggung jawab utang Whoosh dapat meringankan beban belanja modal perusahaan. “Iya mudah-mudahan ya, agar cepat,” ujarnya singkat.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, memastikan proses pengambilalihan pengelolaan KCIC ke Kemenkeu tetap berjalan meski terjadi pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara. Rosan menyebut telah berkomunikasi dengan Suahasil untuk memastikan program yang masih berjalan dapat segera ditindaklanjuti.
Pengalihan saham Whoosh ini menjadi sorotan karena menyentuh aspek kepemilikan, pembiayaan, dan tata kelola salah satu proyek transportasi strategis Indonesia. Perubahan struktur kepemilikan tidak sekadar perpindahan aset, tetapi juga berdampak pada pengelolaan proyek, beban keuangan, serta kepentingan negara ke depan.
Hingga kini, KAI Group mencatat jumlah pelanggan mencapai 351.602.397 sepanjang Januari–Agustus 2026, meningkat 7,09 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini mencakup kereta wisata, LRT Jabodebek, kereta antarkota dan lokal, commuter, kereta bandara, hingga kereta cepat Whoosh.
Dengan finalisasi yang semakin dekat, pemerintah diharapkan dapat segera merampungkan pengalihan saham dan utang Whoosh agar operasional kereta cepat tetap berjalan optimal tanpa membebani APBN. Kejelasan struktur kepemilikan dan pembiayaan menjadi kunci keberlanjutan proyek strategis nasional ini.








