Fokus Surabaya – Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir, sementara Presiden Indonesia Prabowo Subianto bertolak ke Rusia. Kedua kunjungan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah ketegangan geopolitik global yang semakin memanas. Mesir dan Rusia merupakan mitra strategis bagi Indonesia, dan langkah ini dinilai sebagai upaya diplomasi penyeimbang di antara kekuatan besar dunia.
Kunjungan Xi ke Mesir difokuskan pada penguatan kerja sama ekonomi, investasi, dan pembangunan infrastruktur. Mesir merupakan pintu gerbang Tiongkok ke Afrika dan Timur Tengah, sementara Tiongkok adalah mitra dagang utama Mesir. Sementara itu, kunjungan Prabowo ke Rusia bertujuan mempererat hubungan bilateral di bidang pertahanan, energi, dan pangan. Rusia telah lama menjadi pemasok utama senjata dan energi bagi Indonesia, dan pertemuan ini diharapkan membuka peluang baru di sektor ekonomi digital dan teknologi.
Dalam konteks global, langkah Indonesia dan Tiongkok ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang semakin aktif menentukan arah politik luar negeri mereka tanpa terikat pada blok tertentu. Indonesia, dengan politik bebas aktifnya, berusaha menjaga keseimbangan antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia. Sementara Tiongkok, melalui kunjungan Xi, memperlihatkan ambisi menjadi mediator dan mitra utama di kawasan Afrika dan Timur Tengah.
Di sisi lain, Indonesia juga terus memperluas jaringan diplomasi. Menteri Luar Negeri Sugiono menandatangani Perjanjian Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Dinas (PBVDD) dengan Lebanon, Saint Vincent dan Grenadines, serta Republik Dominika di New York, di sela Sidang Majelis Umum ke-81 PBB. Perjanjian ini bertujuan memperkuat hubungan bilateral dan meningkatkan interaksi antarnegara, serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
Dengan Lebanon, PBVDD ditandatangani bersama Menlu Yousef Raggi, dan keduanya membahas penguatan kerja sama ekonomi serta situasi Palestina. Lebanon mengapresiasi kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian UNIFIL sejak 2006. Sementara dengan Saint Vincent dan Grenadines, kerja sama difokuskan pada pengembangan kapasitas diversifikasi produk mangga dan sukun. Adapun dengan Republik Dominika, perjanjian ini memfasilitasi mobilitas dan membangun kepercayaan.
Semua langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Tiongkok sama-sama menjalankan diplomasi penyeimbang. Indonesia tidak ingin terjebak dalam rivalitas AS-Tiongkok, tetapi justru memanfaatkan posisinya untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Tiongkok juga berusaha memperluas pengaruh tanpa konfrontasi langsung. Kunjungan Prabowo ke Rusia dan Xi ke Mesir menjadi simbol bahwa dunia multipolar sedang terbentuk, dan negara-negara berkembang memiliki peran penting dalam menentukan arahnya.
Ke depan, keberhasilan diplomasi ini akan diukur dari hasil konkret: investasi, alih teknologi, dan perdamaian kawasan. Indonesia perlu memastikan bahwa setiap perjanjian membawa manfaat nyata bagi rakyat, bukan sekadar simbol politik. Dengan pendekatan bebas aktif, Indonesia dapat terus menjadi jembatan antara kekuatan-kekuatan besar dunia.







