Sport

Luis Milla, dari Tawaran Mendarat Atlético hingga Jadi Nyawa Baru Como di Serie A

Luis Milla, dari Tawaran Mendarat Atlético hingga Jadi Nyawa Baru Como di Serie A
Luis Milla, dari Tawaran Mendarat Atlético hingga Jadi Nyawa Baru Como di Serie A
Daftar Isi
  1. Awal Musim yang Spektakuler
  2. Perubahan Radikal dari Getafe ke Como
  3. Keajaiban Multibahasa Fabregas
  4. Karier yang Terlambat Bersinar
  5. Gaya Hidup Seorang Profesional Modern
  6. Kisah Tawaran Atlético Madrid
  7. Kesimpulan
A− A+

Fokus Surabaya – Nama Luis Milla mungkin belum sepopuler bintang-bintang anyar Como lainnya seperti Kean, Liberali, Chalobah, atau Couto. Namun gelandang asal Spanyol itu justru menjadi salah satu rekrutan yang paling mencuri perhatian tifan Como sejak awal musim. Penampilannya yang cerdas, rapi, dan terorganisir membuat pelatih Cesc Fabregas dianggap kembali jeli dalam membaca pasar transfer. Milla datang tanpa banyak sorotan, tetapi langsung memberi dampak nyata di lini tengah.

Di sela waktu libur yang diberikan Fabregas kepada skuad, Milla pulang ke Madrid untuk berkumpul bersama keluarga dan anjing-anjing kesayangannya. Ia juga memberikan wawancara panjang kepada El Partidazo de Cope, sebuah kesempatan untuk mengevaluasi awal petualangannya di Italia.

Baca juga:

Awal Musim yang Spektakuler

Milla menyebut awal musim ini sebagai periode yang luar biasa. Menurutnya, publik menyukai gaya permainan yang dibangun Como, terlepas dari satu kekalahan di laga terakhir. Ia juga menyadari bahwa jadwal ke depan akan sangat padat, dengan pertandingan setiap tiga hari. Dalam waktu singkat, ia bahkan dipercaya menjadi kapten keempat tim, sebuah pengakuan atas pengalaman dan kedewasaannya di ruang ganti.

Perubahan Radikal dari Getafe ke Como

Perpindahan Milla bukan sekadar soal pindah negara atau mencoba liga baru. Ia menyebut perbedaan paling mencolok terletak pada sosok pelatih dan filosofi permainan. Di Getafe, ia diasuh José Bordalás yang dikenal dengan pendekatan defensif. Kini di Como, ia bekerja di bawah Cesc Fabregas yang mengusung sepak bola ofensif dan progresif.

Bagi Milla, hal terpenting dari seorang pelatih adalah kemampuan meyakinkan pemain terhadap idenya. Dan Fabregas, menurutnya, sangat mahir dalam hal itu. Bahkan sebelum mereka bertemu, Milla sudah mengamati bagaimana Fabregas mampu menularkan filosofinya kepada para pemain. Ketika Fabregas meneleponnya, Milla langsung yakin.

Keajaiban Multibahasa Fabregas

Salah satu hal yang paling mengesankan bagi Milla adalah kemampuan Fabregas berkomunikasi. Ia menyebut mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu fasih berbicara dalam bahasa Spanyol, Italia, Inggris, dan Prancis. Dalam satu sesi penjelasan taktik, Fabregas bisa berpindah bahasa dalam hitungan detik, menyesuaikan dengan pemain yang sedang diberi instruksi.

Milla juga menyoroti perbedaan kebiasaan keduanya. Di Getafe, penimbangan berat badan menjadi rutinitas yang sering dilakukan. Di Como, Fabregas tidak terlalu mempermasalahkannya. Milla justru punya masalah sebaliknya dari rekan-rekannya: ia sulit menambah berat badan, sehingga dulu ia harus minum banyak air sebelum ditimbang, meski akhirnya harus sering ke kamar mandi saat rapat teknis.

Baca juga:

Karier yang Terlambat Bersinar

Jalan Milla menuju panggung besar memang tidak mulus. Ia baru debut di La Liga pada usia 25 tahun dan mencicipi Liga Champions pada usia 31 tahun. Satu hal yang masih ia dambakan adalah panggilan tim nasional Spanyol. Milla mengaku selalu berharap, dan percaya peluang itu masih terbuka. Semuanya bergantung pada performanya, performa Como, dan para rekan mudanya.

Ia mengaku matanya berbinar melihat Nico dan pemain-pemain muda lain bermain dengan begitu natural. Menurutnya, mereka benar-benar bertalenta. Milla juga dikenal sebagai sosok yang berbeda dari kebanyakan pesepak bola. Ia mengaku sangat mencintai sepak bola, selalu menonton pertandingan, dan berusaha memahami cara tim bermain serta apa yang mereka cari. Banyak pemain, katanya, hanya mengandalkan kualitas pribadi tanpa berusaha memahami permainan. Ia tidak demikian, karena di masa depan ia bercita-cita menjadi pelatih.

Gaya Hidup Seorang Profesional Modern

Milla juga sangat memperhatikan tubuhnya. Ia memakai kacamata berlensa merah yang menyaring cahaya, seperti rekannya Llorente. Ia hanya mau minum air yang sudah difilter karena tidak percaya pada plastik botol kemasan. Soal tidur, ia percaya tubuh manusia dirancang untuk bangun dan tidur lebih awal, dengan satu pengecualian: ketika ada pertandingan yang harus ditonton.

Koleksi jerseynya juga istimewa. Ia memiliki banyak jersey berharga, termasuk milik Modric, Pique, dan Kroos. Namun yang paling spesial dipajang di dinding: jersey debut di La Liga, debut di Liga Europa, serta jersey laga melawan Leipzig dengan patch khusus debutan Liga Champions. Jersey terakhir ia kenakan di Stadion Sinigaglia, di hadapan para pendukung baru Como.

Milla memuji atmosfer luar biasa di Como dan keindahan kotanya. Soal biaya hidup, ia menilai tidak terlalu mahal. Ia tinggal di pinggiran kota dengan sewa sekitar 5.000 euro, jauh lebih murah dibanding Milan yang harganya bahkan melampaui Madrid.

Baca juga:

Kisah Tawaran Atlético Madrid

Di balik kariernya, ada satu momen menarik yang baru ia ungkapkan. Milla pernah hampir bergabung dengan Atlético Madrid hingga dua kali. Yang terbaru terjadi pada musim panas 2024, ketika Atlético mencari gelandang dan bursa transfer hampir ditutup. Atlético sempat menanyakan situasinya, tetapi operasi gagal terwujud.

Getafe awalnya menolak pinjaman, lalu menerima tawaran ekonomi yang tidak meyakinkan presiden klub, Ángel Torres. Selain itu, melepas Milla di hari-hari terakhir bursa berarti Getafe tak punya cukup waktu mencari pengganti. Milla mengenang momen itu dengan jelas. Saat sedang hendak bermain golf di hari terakhir bursa, ia ditelepon dan diberi tahu bahwa Atlético ingin merekrutnya. Namun semuanya berhenti di situ.

Ia mengakui bahwa ketertarikan Atlético membuatnya bersemangat. Mendapat telepon di hari terakhir, dan diinginkan klub sebesar Atlético, adalah hal istimewa yang akan sangat indah untuk dijalani. Namun waktu yang terlalu sempit membuat semua pergerakan mustahil diorganisir. Milla juga memahami posisi Getafe yang tak ingin kehilangan salah satu pemain kuncinya tanpa waktu untuk bereaksi.

Kesimpulan

Perjalanan Luis Milla adalah kisah tentang kesabaran, kecerdasan, dan kecintaan mendalam pada sepak bola. Dari tawaran Atlético yang nyaris terwujud hingga perannya sebagai kapten keempat di Como, ia membuktikan bahwa pemahaman taktik dan disiplin hidup bisa menjadi pembeda. Di bawah asuhan Cesc Fabregas, Milla menemukan lingkungan yang cocok untuk berkembang, sambil tetap mengejar mimpi membela tim nasional Spanyol. Bagi Como, kehadirannya bukan sekadar tambahan pemain, melainkan sosok yang bisa menjadi jembatan antara pengalaman dan ambisi generasi muda klub.

Mungkin Anda Suka