Fokus Surabaya – Seorang pria paruh baya dilaporkan tewas saat menyelam di kawasan Sungai Lobang, Simalungun, Sumatera Utara. Peristiwa nahas yang menimpa korban saat menyelam di sungai tersebut menjadi pengingat keras bagi masyarakat akan besarnya risiko aktivitas di perairan terbuka, terutama ketika kondisi arus dan dasar sungai sulit diprediksi.
Insiden serupa sebelumnya juga terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Utara, menegaskan bahwa bahaya di sekitar sungai bukan sekadar ancaman musiman. Pada Rabu, 23 September 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, seorang pria bernama Franki Hutauruk (53) terpeleset di tepi Sungai Sei Lepan, Desa Lama Baru, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat. Korban yang terpleset di sungai itu kemudian dilaporkan hilang dan memicu operasi pencarian besar-besaran.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, mengungkapkan bahwa keluarga korban segera melaporkan kejadian tersebut melalui BPBD Kabupaten Langkat untuk meminta bantuan pencarian dan pertolongan. Menindaklanjuti laporan itu, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan mengerahkan tujuh personel Tim Rescue beserta peralatan SAR menuju lokasi dan langsung berkoordinasi dengan Polsek Babalan serta BPBD Langkat.
Setelah dilakukan pencarian intensif, pria paruh baya tersebut akhirnya ditemukan tewas sekitar dua kilometer dari lokasi kejadian pada Kamis siang, 24 September 2026, sekitar pukul 12.40 WIB. Tim SAR Gabungan segera melakukan proses evakuasi dan menyerahkan korban kepada pihak keluarga pada pukul 13.25 WIB. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR dinyatakan ditutup.
Hery menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan, pemerintah setempat, masyarakat, serta keluarga korban yang telah mendukung pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan. Ia juga mengimbau masyarakat agar selalu mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di sekitar sungai, mengenali potensi bahaya, serta menghindari aktivitas seorang diri di area yang berisiko.
Sementara itu, di Muara Enim, warga di sekitar Jalan Lintas Prabumulih-Muara Enim, tepatnya di depan Kantor Imigrasi dan GOR Muara Enim, digemparkan dengan penemuan seorang pria paruh baya yang meninggal dunia pada Selasa, 22 September 2026 pagi. Korban ditemukan dalam kondisi tergantung di sebuah pohon dan masih mengenakan helm. Korban diketahui bernama Sagino (43), warga Pasar I, Kecamatan Muara Enim, yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang.
Penemuan itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB ketika seorang warga yang melintas melihat sesuatu yang mencurigakan di sekitar lokasi. Polisi yang mendapat laporan kemudian mendatangi lokasi sekitar pukul 09.00 WIB. Petugas SPKT, Kaur Identifikasi, dan piket fungsi Polres Muara Enim langsung melakukan pengamanan serta olah tempat kejadian perkara. Korban kemudian dievakuasi ke RSUD HM Rabain Muara Enim untuk dilakukan pemeriksaan luar.
Kasi Humas Polres Muara Enim AKP RTM Situmorang menyatakan bahwa dari hasil pemeriksaan awal dokter, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Berdasarkan keterangan keluarga, Sagino sebelumnya sempat meminta modal untuk berjualan dan membutuhkan uang tersebut untuk membayar cicilan koperasi. Korban meninggalkan rumah pada Senin, 21 September 2026 sekitar pukul 16.30 WIB, lalu baru ditemukan dalam kondisi meninggal pada Selasa pagi.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas di sekitar sungai maupun tekanan hidup yang berat dapat berujung pada tragedi. Kasus tewasnya pria saat menyelam di Sungai Lobang Simalungun, ditambah insiden terpleset di Sungai Sei Lepan dan penemuan pria tergantung di Muara Enim, menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih waspada.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Selalu memeriksa kondisi arus, kedalaman, dan dasar sungai sebelum menyelam atau berenang.
- Hindari aktivitas di sungai saat cuaca buruk atau debit air meningkat.
- Gunakan pelampung dan jangan pernah menyelam seorang diri.
- Kenali jalur evakuasi dan simpan nomor kontak kantor SAR setempat.
- Segera laporkan potensi bahaya kepada pihak berwenang.
Dengan meningkatnya kesadaran akan keselamatan, diharapkan tragedi serupa tidak kembali terjadi. Keluarga korban pun diharapkan mendapatkan pendampingan, sementara aparat terus mengingatkan pentingnya kehati-hatian di area perairan yang berisiko tinggi.








