Nasional

Malam Menegangkan di Merapi: Awan Panas Meluncur 2 Kilometer ke Kali Boyong, Status Siaga Masih Melekat

Malam Menegangkan di Merapi: Awan Panas Meluncur 2 Kilometer ke Kali Boyong, Status Siaga Masih Melekat
Malam Menegangkan di Merapi: Awan Panas Meluncur 2 Kilometer ke Kali Boyong, Status Siaga Masih Melekat
Daftar Isi
  1. Konfirmasi Petugas di Lapangan
  2. Sepekan Penuh Aktivitas Vulkanik
  3. Imbauan Resmi dan Antisipasi Lahar Dingin
  4. Kesimpulan
A− A+

Fokus Surabaya – Gunung Merapi kembali menunjukkan taringnya. Pada Sabtu malam, 26 September 2026, gunung api yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu meluncurkan awan panas guguran sejauh sekitar 2.000 meter atau 2 kilometer ke arah selatan, tepatnya menuju alur Kali Boyong, Kabupaten Sleman, DIY. Peristiwa yang terjadi pukul 20.34 WIB itu sontak menjadi perhatian karena melintas di kawasan yang berpotensi terdampak bahaya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, luncuran awan panas tersebut memiliki amplitudo maksimum 48,66 milimeter dengan durasi kegempaan mencapai 129,64 detik. Angka itu menunjukkan energi yang cukup besar, meski masih dalam rentang yang terus dipantau oleh petugas.

Baca juga:

Konfirmasi Petugas di Lapangan

Petugas Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Kristian Ade, membenarkan adanya laporan dari BPPTKG Yogyakarta. Ia menyebut luncuran material vulkanik itu mengarah ke sektor selatan atau Kali Boyong. Informasi tersebut disampaikan dalam laporan langsung yang dikutip dari program berita televisi nasional, Minggu pagi, 27 September 2026.

Hingga kini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. Status ini telah bertahan sejak beberapa waktu sebelumnya dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Artinya, potensi bahaya masih mengintai, terutama di daerah-daerah yang berada dalam jangkauan alur sungai berhulu di puncak Merapi.

Sepekan Penuh Aktivitas Vulkanik

Dalam laporan mingguan periode pengamatan 18 hingga 24 September 2026, Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengungkapkan bahwa aktivitas erupsi efusif masih terus berlangsung. Suplai magma dari dalam perut bumi masih aktif dan dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Pengamatan visual menunjukkan cuaca di sekitar gunung umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sementara siang hingga sore kerap tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dengan ketebalan tipis hingga tebal, bertekanan lemah, dan ketinggian berkisar 10 meter sampai 100 meter dari puncak. Guguran lava terpantau cukup aktif mengarah ke sejumlah sektor hulu sungai di lereng Merapi.

Baca juga:

Dari sisi instrumental, jaringan seismik BPPTKG merekam aktivitas kegempaan yang intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding pekan sebelumnya. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  • 16 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB)
  • 560 gempa Fase Banyak (MP)
  • 512 gempa Guguran (RF)
  • 8 gempa Tektonik (TT)

Meski secara kuantitatif menurun, kombinasi data visual dan instrumental tetap menunjukkan bahwa Merapi belum aman. Suplai magma yang masih berlangsung menjadi alarm bagi warga dan petugas untuk tidak lengah.

Imbauan Resmi dan Antisipasi Lahar Dingin

Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya, khususnya di sepanjang alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Ancaman utama yang perlu diwaspadai meliputi guguran lava dan awan panas. Selain itu, potensi lahar dingin juga dapat terjadi ketika hujan turun di kawasan gunung, karena material vulkanik yang menumpuk di lereng bisa terbawa arus air.

Warga diminta tetap tenang dan mengikuti rekomendasi resmi yang dikeluarkan BPPTKG maupun Badan Geologi. Pemantauan perkembangan aktivitas vulkanik juga dianjurkan dilakukan melalui sumber informasi resmi dan terpercaya, bukan dari kabar yang belum jelas asalnya.

Baca juga:

Kesimpulan

Awan panas guguran sejauh 2 kilometer yang meluncur ke Kali Boyong pada Sabtu malam menjadi pengingat bahwa Gunung Merapi masih berada dalam fase aktif. Status Siaga Level III yang belum dicabut menegaskan bahwa potensi bahaya belum berlalu. Masyarakat di sekitar lereng, terutama di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Magelang, perlu terus meningkatkan kewaspadaan, mematuhi jalur evakuasi, dan menjauhi alur sungai yang berhulu di Merapi. Dengan disiplin mengikuti arahan BPPTKG dan Badan Geologi, risiko korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin.

Alya Prameswari

Myrddin Mackynsie Abiola, atau yang akrab dipanggil "Myr" oleh tanaman hiasnya (karena tanaman tidak bisa berbicara), adalah penulis yang memulai karirnya pada tahun 2022. Surabaya menjadi tempat tinggalnya yang nyaman, meski ia lebih sering berselingkuh dengan jalan-jalan Indonesia demi liputan, berasa seperti reporter versi nomaden. Selain menulis dengan penuh semangat, Myr juga menghabiskan waktu mengamati bintang—mencari tahu apa yang dilakukan para bintang Hollywood ketika tidak terjebak dalam drama. Jadi, jika Anda melihat seseorang berjalan sambil memeluk pot monstera sambil mondar-mandir menatap langit malam, bisa dipastikan itu adalah Myr.

Mungkin Anda Suka