Fokus Surabaya – Kasus dugaan keracunan massal kembali mengguncang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah. Kali ini, sebanyak 707 siswa dan guru di SMKN 6 Semarang dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG. Peristiwa ini mendapat perhatian serius dari Wakil Menteri Pertanian sekaligus Ketua Satgas MBG, Sudaryono, yang langsung turun tangan meninjau lokasi dan memastikan penanganan korban.
Insiden di SMKN 6 Semarang menambah daftar panjang kasus serupa di wilayah Jawa Tengah. Sebelumnya, ratusan siswa di SMAN 1 Sampang, Cilacap, juga mengalami gejala keracunan usai menyantap paket MBG pada Selasa (22/9/2026). Lebih dari 300 siswa mengeluhkan mual, pusing, lemas, hingga diare secara massal pada Rabu (23/9/2026). Mereka yang mengalami gejala berat terpaksa dilarikan ke RSUD Cilacap dan Puskesmas Sampang untuk perawatan intensif.
Menu MBG yang diduga menjadi penyebab di Cilacap meliputi nasi, rica-rica ayam, tumis kangkung, tahu, dan buah semangka. Seorang siswa kelas X, Yesilia Suwita, mengungkapkan bahwa gejala mulai terasa pada Selasa malam dan semakin parah keesokan harinya. “Kemarin menyantap menu nasi, rica-rica ayam, kangkung, tahu, sama semangka. Terus pas malamnya mulai terasa mual, pusing, dan diare. Pas di sekolah tadi pagi gejalanya tambah parah sampai lemas,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap bergerak cepat melakukan penanganan darurat dan pendataan korban. Sementara itu, Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Pati, tepatnya di MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong. Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG di Pati menunjukkan adanya kandungan bakteri berbahaya. Kepala Dinas Kesehatan Pati, Zulfachmi Wahab, mengungkapkan bahwa lima sampel makanan diuji, dan dua di antaranya positif mengandung bakteri.
“Ini memang dua yang ditemukan positif bakteri, yaitu dari nasi goreng dan tempenya. Kalau yang lain negatif semua,” kata Zulfachmi saat diwawancarai, Rabu (23/9/2026). Pada nasi goreng ditemukan Escherichia coli (E. coli), Bacillus Sp, dan Bacillus cereus. Sementara pada tempe terkandung Bacillus Sp dan Bacillus cereus. Menurut Zulfachmi, E. coli kemungkinan besar berasal dari cemaran air, sedangkan Bacillus sering ditemukan di saluran pencernaan manusia.
Pengujian juga dilakukan terhadap sampel muntahan dan feses siswa. Hasilnya, muntahan positif mengandung Bacillus Sp dan Bacillus cereus, sedangkan feses ditemukan E. coli dan Staphylococcus aureus. “Kalau Staphylococcus aureus paling mungkin dari tangan penjamah makanan,” jelas Zulfachmi. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan memberikan rekomendasi perbaikan sanitasi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama terkait penyediaan air bersih yang harus difilter.
Menanggapi rentetan kasus ini, Sudaryono turun langsung ke Semarang untuk meninjau penanganan korban dan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan MBG. Ia menekankan pentingnya standar keamanan pangan dan kebersihan dalam setiap tahap produksi dan distribusi makanan. “Kami akan melakukan audit menyeluruh terhadap SPPG yang terlibat. Jika ditemukan kelalaian, akan ada sanksi tegas,” ujar Sudaryono dalam keterangan resminya.
Hingga saat ini, Dinas Kesehatan setempat masih terus melakukan pendataan dan pengobatan terhadap para korban. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan pihak sekolah dan penyedia layanan MBG untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Para siswa yang terdampak diimbau untuk segera melapor jika mengalami gejala lanjutan.
Kasus keracunan MBG di Semarang, Cilacap, dan Pati menjadi sorotan publik. Program MBG yang digagas sebagai upaya meningkatkan gizi anak sekolah kini menghadapi tantangan besar terkait keamanan pangan. Pengawasan ketat terhadap SPPG, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi, menjadi kunci agar program ini tidak lagi memakan korban.
Dengan adanya intervensi dari Sudaryono dan hasil uji laboratorium yang menunjukkan kontaminasi bakteri, diharapkan ada perbaikan sistemik dalam penyelenggaraan MBG. Kesehatan dan keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan benar-benar layak konsumsi dan bebas dari patogen berbahaya. Kejadian ini menjadi momentum untuk evaluasi total demi keberlanjutan program yang lebih baik.








