News

Air Bersih Jadi Penghambat Proyek Rp3,3 Miliar di Siantan Selatan, Nelayan Air Bini Justru Sibuk Urus Pompong

Air Bersih Jadi Penghambat Proyek Rp3,3 Miliar di Siantan Selatan, Nelayan Air Bini Justru Sibuk Urus Pompong
Air Bersih Jadi Penghambat Proyek Rp3,3 Miliar di Siantan Selatan, Nelayan Air Bini Justru Sibuk Urus Pompong
Daftar Isi
  1. Proyek Jalan Desa Tiangau Masuk Tahap Lantai Kerja
  2. Nelayan Air Bini Urus Pengukuran Pompong
  3. Dua Wajah Pembangunan di Siantan Selatan
A− A+

Fokus SurabayaKepulauan Anambas kembali menjadi sorotan dalam pemberitaan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan nelayan. Dua peristiwa penting terjadi di Kecamatan Siantan Selatan dalam sepekan terakhir: proyek jalan senilai Rp3,3 miliar yang mulai dikerjakan namun terkendala air bersih, serta pendataan puluhan pompong nelayan di Desa Air Bini yang tengah melengkapi administrasi kapal.

Proyek Jalan Desa Tiangau Masuk Tahap Lantai Kerja

Pembangunan ruas jalan di Desa Tiangau, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, resmi memasuki tahap pengerjaan lantai kerja. Proyek dengan nilai kontrak Rp3,3 miliar tersebut menjadi salah satu prioritas Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau dalam memperlancar konektivitas antarwilayah di gugusan kepulauan.

Baca juga:

Namun, pelaksanaan proyek tidak berjalan mulus. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat pasokan air bersih di lokasi proyek sangat minim. Kondisi ini sempat dikhawatirkan menghambat proses pengerjaan, terutama karena air merupakan komponen penting dalam pencampuran material konstruksi.

Pejabat Pembuat Komitmen Bina Marga Dinas PU Provinsi Kepulauan Riau, Ronny Setiawan, mengakui bahwa kendala air memang sudah diantisipasi sejak awal. “Memang sebelumnya ada kendala seperti air. Musim kemarau agak panjang, kebetulan air sangat minim sekarang ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (14/09/2026) lalu.

Meski demikian, Ronny memastikan pekerjaan tetap berjalan. Pelaksana proyek mengambil langkah cepat dengan membeli air dari pihak ketiga agar aktivitas konstruksi tidak terhenti. “Syukurnya, pelaksana ngorder atau beli air. Jadi pekerjaan tidak terganggu,” tambahnya.

Saat ini, progres proyek dilaporkan baru mencapai sekitar 10 persen, terhitung sejak masuk tahap lantai kerja. Ronny menyatakan optimistis bahwa proyek tersebut dapat diselesaikan sesuai masa kontrak yang telah ditetapkan. Pihaknya juga melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin setiap pekan untuk memastikan target penyelesaian tidak meleset.

“Kami ke sini dalam rangka monitoring dan evaluasi. Setiap minggu kami lakukan evaluasi,” jelas Ronny. Ia berharap perkembangan pekerjaan pada pekan-pekan berikutnya menunjukkan peningkatan signifikan seiring meredanya musim kemarau.

Baca juga:

Nelayan Air Bini Urus Pengukuran Pompong

Di sisi lain, Desa Air Bini di Kecamatan Siantan Selatan juga menjadi perhatian. Sebanyak 27 pompong nelayan menjalani pengukuran oleh Dinas Perikanan, Pertanian dan Pangan (DP3) Kabupaten Kepulauan Anambas bersama Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP). Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat, 11 September 2026.

Pengukuran mencakup dimensi utama kapal untuk memastikan kesesuaian antara ukuran fisik pompong di lapangan dengan data yang akan didaftarkan. Petugas UPP mengukur sejumlah bagian kapal secara detail agar data yang diperoleh akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah ini bertujuan melengkapi pendataan kapal nelayan sekaligus membantu pemilik pompong menuntaskan administrasi dan dokumen kapal sesuai ketentuan yang berlaku. Bagi nelayan Air Bini, kelengkapan dokumen menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas melaut sehari-hari.

Administrasi yang tertib memberikan kepastian hukum bagi nelayan saat menjalankan kegiatan di laut, termasuk ketika menghadapi pemeriksaan dari instansi terkait. Pemerintah daerah berharap program pendataan ini dapat berjalan berkelanjutan di desa-desa pesisir lainnya di Kepulauan Anambas.

Dua Wajah Pembangunan di Siantan Selatan

Dua peristiwa ini menggambarkan potret pembangunan di Siantan Selatan yang berjalan di dua jalur sekaligus: infrastruktur darat dan sektor kelautan. Proyek jalan di Desa Tiangau diharapkan mempercepat distribusi barang dan mobilitas warga, sementara pendataan pompong di Desa Air Bini memperkuat tata kelola sumber daya perikanan.

Baca juga:
  • Proyek jalan Desa Tiangau: nilai kontrak Rp3,3 miliar, progres 10 persen, kendala air bersih akibat kemarau.
  • Pendataan pompong Air Bini: 27 unit kapal diukur, melibatkan DP3 dan UPP Anambas.
  • Lokasi: Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.

Kendala air bersih pada proyek jalan menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan strategi mitigasi musim kemarau di wilayah kepulauan. Ketersediaan air yang terbatas di musim kering merupakan tantangan klasik di daerah kepulauan, sehingga dibutuhkan solusi jangka panjang seperti penampungan air hujan atau pasokan air terorganisir.

Sementara itu, keberhasilan pendataan pompong nelayan di Air Bini dapat menjadi contoh bagi desa pesisir lain. Dengan dokumen kapal yang lengkap, nelayan memiliki posisi lebih kuat dalam mengakses bantuan pemerintah, asuransi, maupun program pemberdayaan ekonomi.

Secara keseluruhan, pembangunan di Siantan Selatan menunjukkan dinamika yang positif meski dihadapkan pada tantangan alam. Kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, instansi pelabuhan, dan masyarakat menjadi kunci agar setiap program berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Warga berharap proyek jalan segera rampung dan pendataan kapal terus berlanjut demi kesejahteraan nelayan di Kepulauan Anambas.

Mungkin Anda Suka