Fokus Surabaya – Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi melancarkan serangan besar-besaran dengan puluhan rudal dan drone yang menggempur pangkalan udara Khamis Mushait di Arab Saudi selatan. Serangan itu menghancurkan hanggar pesawat dan gudang amunisi, melukai sedikitnya 13 warga sipil, serta memicu sirene darurat di empat kota. Tidak hanya itu, Houthi juga dilaporkan menguasai Pelabuhan Mokha di Selat Bab el-Mandeb dan Pulau Perim di muara Laut Merah, memperketat cengkeraman mereka atas jalur pelayaran strategis.
Menurut Guru Besar Ekonomi Politik Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat, penguasaan Pelabuhan Mokha menjadi pukulan telak bagi stabilitas energi global. “Pelabuhan ini sangat penting dari sisi ekonomi maupun politik. Kontrol pesisir di area vital memberi Houthi posisi strategis untuk mengawasi hingga merintangi pelayaran,” ujarnya. Selat Bab el-Mandeb sendiri dilalui sekitar 12 persen perdagangan dunia, termasuk minyak mentah dan gas alam cair.
Dampak langsung dari eskalasi ini terlihat pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Sebelumnya, pipa minyak lintas benua milik Saudi telah lumpuh akibat gempuran udara, memutus alokasi empat persen konsumsi minyak global. Kini, dengan Houthi menguasai hampir seluruh garis pantai barat Yaman, risiko kemacetan distribusi energi fosil semakin nyata. Perusahaan pelayaran pun diprediksi mengalihkan rute logistik, yang berujung pada kenaikan biaya bahan bakar, asuransi, dan ongkos angkut.
Bagi Indonesia, sebagai negara net-importer minyak, situasi ini sangat mengkhawatirkan. Gangguan pasokan global akan langsung memicu kenaikan harga minyak internasional, yang berdampak pada pembengkakan subsidi energi dan inflasi domestik. “Jika jalur perdagangan minyak terganggu, pasokan dunia ikut terpengaruh. Indonesia membeli minyak dari pasar internasional. Jalur yang tersendat dapat memicu kenaikan harga minyak,” jelas Faris. Ia menganalogikan gangguan tersebut seperti pengiriman barang dari Jakarta ke Yogyakarta yang terhambat di jalan, menyebabkan pasokan terlambat dan harga naik.
Di sisi diplomatik, upaya penyelesaian krisis menemui jalan buntu. Perundingan pembukaan Selat Hormuz yang dimediasi Oman mendadak ditunda atas permintaan Arab Saudi. Amerika Serikat pun menolak intervensi militer langsung, sementara klaim kerusakan kapal tanker masih berselisih. Pemerintah Yaman yang diakui internasional mengonfirmasi ketangguhan posisi Houthi. “Kelompok Houthi berada di bawah tekanan berat. Mereka pada intinya memberikan tekanan yang semakin besar kepada pihak Saudi, meningkatkan kampanye serangan rudal dan drone mereka,” kata seorang pejabat Yaman.
Peta geopolitik semakin rumit dengan dukungan Iran terhadap Houthi, sementara Arab Saudi berada di pihak pemerintah Yaman. Penguasaan pelabuhan strategis menjadi sinyal besarnya pengaruh Iran di kawasan. Kondisi ini tidak hanya mengancam keamanan regional, tetapi juga stabilitas pasokan energi global yang berdampak langsung pada negara-negara importir seperti Indonesia.
Pemerintah Indonesia didesak segera memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber, pencarian jalur alternatif, dan peningkatan diplomasi perdamaian internasional. Langkah-langkah ini krusial untuk melindungi perekonomian nasional dari gejolak harga minyak yang berkepanjangan.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, dunia internasional dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga kelancaran arus energi. Tanpa penyelesaian konflik yang cepat, risiko lumpuhnya pasokan minyak global semakin sulit dihindari. Indonesia, sebagai bagian dari ekonomi global, harus bersiap menghadapi badai kenaikan harga dan ketidakpastian pasokan energi.









