Lifestyle

Jangan Buang Ibu: Ketika Penyesalan Datang Setelah Kehilangan, Simak Kisah Mak Eli dan Pelajaran Berharga tentang Komunikasi Keluarga

Jangan Buang Ibu: Ketika Penyesalan Datang Setelah Kehilangan, Simak Kisah Mak Eli dan Pelajaran Berharga tentang Komunikasi Keluarga
Jangan Buang Ibu: Ketika Penyesalan Datang Setelah Kehilangan, Simak Kisah Mak Eli dan Pelajaran Berharga tentang Komunikasi Keluarga
A− A+

Fokus Surabaya – Jakarta, 29 September 2026 – Ungkapan ‘jangan buang ibu‘ bukan sekadar seruan emosional, melainkan sebuah pengingat keras tentang betapa berharganya sosok ibu dalam kehidupan. Kisah yang diangkat dalam film horor ‘Putri Jangan Gentayangan Lagi‘ produksi MVP Pictures menjadi cermin nyata bagaimana penyesalan seorang ibu bisa datang terlambat ketika komunikasi dengan anak terputus. Kinaryosih, aktris yang memerankan Mak Eli, mengungkapkan bahwa karakter ibunya memiliki keterbatasan dalam memahami kondisi Putri. “Kurangnya komunikasi antara ibu dan anak. Jadi, ketika Putri bilang sakit, sebelumnya dia pernah bilang sakit, tetapi kemudian dijemput teman untuk bermain. Akhirnya ketika Putri benar-benar sakit, ibunya tidak percaya,” ujar Kinaryosih saat media visit di Jakarta Barat, Senin (28/9/2026).

Mak Eli digambarkan sebagai ibu yang harus bekerja sekaligus mengurus banyak anak. Kondisi ekonomi dan tuntutan hidup membuatnya tidak selalu bisa fokus pada satu anak. “Dia sebenarnya lembut sebagai ibu. Cuma karena kondisi yang membuat dia harus berjuang. Dia mengurus banyak anak, harus bekerja. Jadi, dia tidak bisa fokus sama anaknya satu-satu,” tambah Kinaryosih. Penyesalan pun menghantui Mak Eli setelah Putri meninggal. Ia merasa gagal menjadi ibu karena terlambat percaya pada keluhan sang anak. “Dia bilang, ‘Mak tuh sedih banget karena nggak percaya sama Putri’,” tutur Kinaryosih. Kisah ini menjadi refleksi bagi banyak keluarga bahwa kehadiran dan kepekaan terhadap anak tidak bisa ditunda.

Baca juga:

Fenomena ‘jangan buang ibu’ juga relevan dalam konteks pengasuhan sehari-hari, terutama saat menghadapi masalah toilet training pada anak. Banyak orang tua yang tanpa sadar mengabaikan sinyal ketidaknyamanan anak, yang kemudian berdampak pada kesehatan dan psikologis buah hati. Mark Wolraich, M.D., Kepala Bagian Pediatri Perkembangan dan Perilaku di University of Oklahoma Health Sciences Center, menjelaskan bahwa anak bisa mengalami kemunduran dalam toilet training karena berbagai faktor, termasuk sembelit. “Cobalah mengidentifikasi alasan terjadinya kemunduran tersebut karena mengatasinya akan membantu anak kembali ke kondisi sebelumnya,” ujarnya. Anak yang pernah merasa sakit saat BAB cenderung menahan buang air besar, sehingga tinja mengeras dan memicu sembelit. Siklus ini membuat anak semakin takut menggunakan toilet. Orang tua perlu memperhatikan tanda seperti tinja keras, mengejan, jarang BAB, atau keluhan sakit. Pastikan anak cukup minum dan mendapat makanan berserat seperti buah, sayuran, serta biji-bijian utuh. Jika sembelit terus terjadi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Kecelakaan BAB di celana juga tidak selalu berarti anak malas atau keras kepala. Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Jika anak kembali BAB di celana setelah sebelumnya berhasil, perhatikan kemungkinan perubahan rutinitas atau masalah seperti sembelit. Dukungan positif sangat penting. Berikan pujian ketika anak mau mencoba menggunakan toilet, memberi tahu bahwa ingin BAB, atau berhasil BAB di potty. Penguatan positif bisa berupa pujian, tos, atau papan stiker sederhana. Tujuannya bukan membuat anak bergantung pada hadiah, melainkan mendorong rasa percaya dirinya. Ajak anak ke kamar mandi sebelum meninggalkan tempat penitipan anak untuk menghindari menahan BAB di perjalanan. Berikan waktu dan privasi agar anak tidak merasa terburu-buru.

Di sisi lain, semangat ‘jangan buang ibu’ juga bisa dimaknai sebagai ajakan untuk tidak membuang siapa pun, termasuk menjaga lingkungan. Komunitas GMSS-SKM Samarinda mengampanyekan bersih sungai melalui lomba memungut sampah berbasis paddle board. Ketua Penyelenggara, Krisdiyanto, menyebut lomba ini digelar untuk memperingati HUT ke-11 GMSS-SKM dan Hari Sungai Sedunia. Total hadiah Rp20 juta diperebutkan dalam berbagai kategori. Misman, Ketua GMSS-SKM, menceritakan pengalamannya saat memungut sampah di tepi sungai dan melihat warga membuang sampah. Ia memilih mengumpulkan sampah tersebut tanpa menegur, berharap warga tersindir. “Apakah sekarang tidak ada lagi orang yang membuang sampah ke sungai? Tentu masih, tapi jumlahnya sudah berkurang,” katanya. Kampanye ini mengingatkan bahwa menjaga lingkungan adalah bentuk tanggung jawab kita kepada generasi mendatang, termasuk para ibu dan anak-anak.

Dalam kehidupan modern yang serba sibuk, tips tetap stylish bagi wanita juga bisa menjadi pengingat untuk tidak mengorbankan penampilan dan kepercayaan diri. Fimela.com merangkum beberapa tips, seperti menentukan pakaian pada malam hari, memilih pakaian yang mudah dipadukan, dan memperhatikan warna netral. Namun, di balik semua itu, prioritas utama tetaplah keluarga. Merawat setrika uap dengan benar agar awet bertahun-tahun, misalnya, adalah bentuk kecil dari menjaga peralatan rumah tangga yang mendukung aktivitas keluarga. Jangan biarkan kesibukan membuat kita mengabaikan orang-orang terdekat, terutama ibu.

Kesimpulannya, ‘jangan buang ibu’ adalah pesan universal tentang pentingnya komunikasi, kepekaan, dan kasih sayang dalam keluarga. Kisah Mak Eli dalam film ‘Putri Jangan Gentayangan Lagi’ menjadi pelajaran berharga bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Baik dalam pengasuhan anak, menjaga lingkungan, maupun menjalani rutinitas harian, luangkan waktu untuk mendengarkan dan memahami. Jangan sampai kita menyesal karena telah mengabaikan ibu atau orang-orang yang kita cintai. Mulailah dari hal kecil, seperti mendengarkan keluhan anak, memberikan pujian, dan menjaga komunikasi yang hangat. Sebab, keluarga adalah harta yang tak ternilai.

Mungkin Anda Suka