A− A+

Fokus Jepara – Baru-baru ini, kasus pengeroyokan mahasiswa di Makassar menjadi sorotan. Dua mahasiswa berinisial ES (20) dan UN (20) ditangkap karena mengeroyok teman mereka, AJL (20), setelah merasa dihina saat siaran langsung di TikTok.

Pelaku mengeroyok korban di Jalan Baruga Raya, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala pada Rabu (24/6). Polisi yang melakukan penyelidikan menangkap kedua pelaku di Jalan Sukaria 18, Makassar pada Sabtu (11/7). Menurut Katim 1 Jatanras Polrestabes Makassar Aipda Andi Faizal, peristiwa itu berawal saat korban melakukan siaran langsung di TikTok.

Baca juga:

Pelaku merasa dihina melalui siaran langsung tersebut sehingga mereka mendatangi korban di kampus. Mereka membujuk korban dengan dalih ingin bicara baik-baik terkait kontennya di TikTok. Namun setibanya di lokasi, kedua pelaku langsung menganiaya korban secara bersama-sama.

Korban mengalami luka memar di bagian kepala dan luka bengkak pada bahu kanan akibat dipukul secara bersama-sama. Setelah diamankan, kedua pelaku mengakui menganiaya korban. Kedua pelaku kini diamankan di Polrestabes Makassar untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara itu, di Purwokerto, seorang mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Purwokerto menjadi viral karena menjalani sidang tugas akhir dengan riasan khas black metal. Mahasiswa tersebut adalah Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra, yang mengangkat tugas akhir berjudul Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet sebagai Artefak Visual.

Raga memilih Band Santet sebagai objek penelitian karena menilai grup musik tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang layak didokumentasikan. Ia memilih media buku komik dokumenter untuk menyajikan hasil risetnya karena dinilai mampu menjadi medium yang menarik untuk memperkenalkan perjalanan Band Santet kepada masyarakat.

Baca juga:

Dalam proses penyusunan tugas akhir, Raga menghabiskan sekitar tiga bulan untuk melakukan riset, mulai dari observasi, pengumpulan data, hingga wawancara langsung dengan personel Band Santet. Setelah itu, ia membutuhkan sekitar dua bulan untuk merancang buku komik dokumenter tersebut.

Kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menjadi sorotan karena berbagai alasan, baik itu karena tindakan yang tidak tepat atau karena kegiatan yang unik dan kreatif. Oleh karena itu, mahasiswa harus selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan dan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap diri sendiri dan orang lain.

Dalam beberapa kasus, mahasiswa juga dapat menjadi korban karena tindakan yang tidak tepat dari pihak lain. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan untuk menghadapi situasi yang tidak terduga.

Untuk itu, diperlukan kerja sama antara mahasiswa, pihak kampus, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat fokus pada pendidikan dan pengembangan diri tanpa harus khawatir tentang keselamatan dan kesejahteraan mereka.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.