Fokus Surabaya – Juventus tengah menunjukkan wajah baru di bawah asuhan pelatih Luciano Spalletti. Kemenangan telak 5-0 atas NEC Nijmegen dalam laga perdana Liga Eropa 2026/27 menjadi bukti kebangkitan tim, sekaligus momen penting bagi sejumlah pemain yang sebelumnya diterpa keraguan. Di jantung kebangkitan itu, nama Nico Gonzalez mencuat sebagai motor serangan, sementara penyerang muda Nick Woltemade dan Randal Kolo Muani mulai menemukan sentuhan gol mereka.
Nico Gonzalez tampil sebagai pemain terbaik dalam laga tersebut. Winger asal Argentina itu membuka keunggulan Juventus di Allianz Stadium, lalu memenangkan hadiah penalti yang akhirnya dieksekusi oleh Woltemade. Namun, keputusan untuk menyerahkan bola kepada Woltemade bukan tanpa alasan. “Saya memang penendang penalti, tetapi kami membutuhkan striker,” ujar Nico Gonzalez di mixed zone. “Baik dia maupun Kolo Muani. Itu adalah hadiah yang mungkin bisa memberi mereka energi dan kepercayaan diri karena kami membutuhkan mereka.”
Kepercayaan diri menjadi kata kunci dalam pernyataan Nico. Ia mengakui bahwa musim pertamanya bersama Juventus pada 2025 tidak berjalan mulus. Di bawah asuhan Thiago Motta dan Igor Tudor, performanya jauh dari ekspektasi. Ia kemudian dipinjamkan ke Atletico Madrid pada 2025/26, sebelum akhirnya kembali ke Turin untuk musim 2026/27. “Hal-hal tidak berjalan baik di musim pertama, tetapi itu biasa terjadi dalam sepak bola,” kenangnya. “Saya kehilangan kepercayaan diri, tetapi ini sepak bola. Sekarang saya menjadi diri saya sendiri dan saya menikmatinya.”
Pujian juga ia layangkan kepada Spalletti. Menurut Nico, tangan dingin pelatih berusia 67 tahun itu sangat berpengaruh terhadap kebangkitan performanya. “Saya senang. Ini berkat pelatih dan tim. Mereka memberi saya kepercayaan yang kadang saya butuhkan,” tambahnya. Ia juga menilai skuad Juventus saat ini lebih kuat dan lebih bersatu dibandingkan periode pertamanya. “Kami lebih kompak, dan itu terlihat di lapangan.”
Di sisi lain, Woltemade sedang menjalani masa pinjaman dari Newcastle United. Striker asal Jerman itu bergabung dengan Juventus pada akhir jendela transfer musim panas, tanpa opsi pembelian. Ia belum memulai satu pun laga Serie A, tetapi gol pertamanya di Liga Eropa melawan NEC menjadi sinyal positif. Newcastle dikabarkan telah mengambil keputusan untuk melepasnya secara permanen pada akhir musim, terlebih setelah kedatangan Matias Fernandez-Pardo dari Lille dengan harga 51 juta poundsterling. Performa Yoane Wissa dan prospek Will Osula membuat Woltemade semakin tersisih di St James’ Park. Meski demikian, Juventus disebut akan memantau perkembangan pemain 24 tahun itu sebelum menentukan langkah permanen, sementara Bayern Munich juga dikaitkan dengan upaya membawanya kembali ke Bundesliga.
Kolo Muani, yang masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, turut menyumbang satu gol dan satu assist. Kombinasi ketiganya menjadi ancaman serius bagi lini pertahanan lawan. Spalletti sendiri disebut-sebut sebagai sosok yang mampu menyatukan egos dan mengembalikan identitas permainan Juventus yang sempat hilang.
Di level internasional, nama Cristiano Ronaldo tetap menjadi sorotan setelah kembali dipanggil ke skuad Portugal oleh pelatih baru Jorge Jesus. Meski telah berusia 41 tahun, Ronaldo masih diandalkan untuk laga Nations League melawan Wales, Norwegia, dan Denmark. Pelatih Jesus menegaskan bahwa performa, bukan masa lalu, yang akan menentukan pilihan. “Cris adalah pemain seperti yang lain. Jika dia tampil baik, dia bermain; jika tidak, dia tidak bermain,” tegasnya. Ronaldo kini mengoleksi 979 gol sepanjang karier dan berpeluang menembus 1.000 gol bersama Portugal.
Sementara itu, di Skotlandia, Celtic tengah dilanda krisis setelah dua kekalahan beruntun, termasuk dari Ferencvaros di Liga Eropa. Legenda klub Neil Lennon menilai para pemain senior harus bertanggung jawab atas buruknya manajemen pertandingan. “Ini soal pemain. Ada banyak pengalaman di sana. Manajemen pertandingan harus dipertanyakan,” ujarnya. Mantan gelandang Stiliyan Petrov bahkan meragukan apakah gaya permainan Celtic saat ini benar-benar datang dari manajer Martin O’Neill atau asistennya.
Bagi Juventus, fokus utama tetap pada pembangunan kembali mentalitas juara. Kehadiran Spalletti, kebangkitan Nico Gonzalez, serta potensi Woltemade dan Kolo Muani menjadi fondasi harapan. Jika ketiganya mampu menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin Si Nyonya Tua kembali menantang dominasi di Serie A dan kompetisi Eropa. Langkah selanjutnya akan menjadi ujian sesungguhnya: apakah momentum ini berlanjut atau hanya sekadar euforia sesaat.








