Teknologi

OpenAI Luncurkan Astra for Law, ChatGPT Kini Kuasai Dunia Hukum?

OpenAI Luncurkan Astra for Law, ChatGPT Kini Kuasai Dunia Hukum?
OpenAI Luncurkan Astra for Law, ChatGPT Kini Kuasai Dunia Hukum?
Daftar Isi
  1. Apa Itu Astra for Law?
  2. Kemampuan dan Benchmark
  3. Alur Kerja dan Integrasi
  4. Privasi dan Ketersediaan
  5. Tantangan dan Sorotan Lain
A− A+

Fokus SurabayaOpenAI kembali memperluas ambisi industrinya dengan meluncurkan Astra for Law, sebuah fondasi AI yang dirancang khusus untuk firma hukum dan perusahaan teknologi hukum. Langkah ini menyusul kesuksesan ChatGPT for Financial Services yang diperkenalkan pada 10 September, menandai pergeseran strategi OpenAI dari sekadar model bahasa umum menjadi alat yang disesuaikan dengan alur kerja profesional.

Astra for Law diperkenalkan pada 17 September dan bukan merupakan model dasar yang sepenuhnya baru. Produk ini menggabungkan GPT-6 Astra dengan Legal Search Index khusus, instruksi kustom untuk analisis dan penulisan hukum, serta kontrol tata kelola yang ketat. OpenAI menyebutnya sebagai fondasi AI baru bagi firma hukum dan perusahaan teknologi hukum.

Baca juga:

Apa Itu Astra for Law?

Inti dari Astra for Law adalah GPT-6 Astra yang dipadukan dengan serangkaian alat yang dirancang untuk tugas-tugas hukum sehari-hari. Salah satu komponen utamanya adalah Legal Search Index yang mampu menelusuri lebih dari 230 juta URL, mencakup yurisprudensi AS, statuta, peraturan, aturan pengadilan, dan keputusan administratif. Sumber baru ditambahkan setiap hari untuk memastikan relevansi dan kemutakhiran data.

OpenAI juga bekerja sama dengan Free Law Project, organisasi nirlaba di balik CourtListener, untuk menghadirkan koleksi yang mencakup lebih dari 99,9 persen yurisprudensi preseden AS yang dipublikasikan ke dalam pengalaman riset Astra for Law. Indeks pencarian ini dirancang untuk melengkapi basis data hukum berlisensi dan alat khusus yang sudah digunakan firma hukum.

Kemampuan dan Benchmark

Dalam pengujian internal terhadap 200 pertanyaan riset hukum AS, Astra for Law pada pengaturan penalaran tertinggi berhasil melewati pemeriksaan kebenaran keseluruhan pada 54 persen pertanyaan, dibandingkan 38,7 persen untuk GPT-6 Astra yang hanya menggunakan pencarian web. OpenAI mengklaim ini sebagai peningkatan relatif 40 persen. Selain itu, model ini menemukan 24 persen lebih banyak kasus referensi pada pertanyaan yurisprudensi dan mengambil hingga 54 persen lebih banyak bagian relevan dari opini pengadilan yang benar dalam kumpulan data yang diaudit.

Perlu dicatat bahwa hasil ini merupakan pengujian internal OpenAI dan belum dinilai secara independen. Namun, klaim tersebut menunjukkan potensi besar AI dalam mempercepat riset hukum yang biasanya memakan waktu berjam-jam.

Baca juga:

Alur Kerja dan Integrasi

Astra for Law tidak hanya menjawab pertanyaan hukum sederhana. Sistem ini dirancang untuk membantu mengubah fakta klien menjadi pertanyaan riset, membangun argumen, menyusun ketentuan kesepakatan, meninjau kontrak, dan mengidentifikasi titik lemah atau ambiguitas dalam suatu argumen. Pendekatan ini berfokus pada alur kerja, bukan sekadar pengetahuan umum model atau pencarian web biasa.

Firma hukum dapat menggunakan preseden, playbook negosiasi, instruksi, dan materi internal mereka sendiri untuk membangun alat yang disesuaikan untuk tugas hukum tertentu. OpenAI juga menghubungkan Astra for Law dengan ekosistem teknologi hukum yang lebih luas melalui plugin mitra dan komunitas, melibatkan perusahaan seperti Harvey, Legora, iManage, dan Thomson Reuters.

Privasi dan Ketersediaan

Menyadari sensitivitas data klien, OpenAI menyediakan kontrol privasi tambahan. Firma hukum yang memenuhi syarat akan mendapatkan Zero Data Retention untuk penggunaan API, sementara obrolan ChatGPT Enterprise secara default tidak ditinjau oleh manusia. OpenAI juga tengah mengembangkan kontrol akses informasi di dalam firma hukum.

Astra for Law awalnya ditawarkan kepada firma hukum terpilih di AS melalui program Trusted Access di ChatGPT dan Codex. Di ChatGPT, produk ini akan muncul sebagai “GPT-6 Astra Law”, sedangkan versi API akan disebut gpt-6-astra-law. Akses API akan menyusul kemudian.

Baca juga:

Tantangan dan Sorotan Lain

Peluncuran ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan AI. Dalam sebuah acara Dreamforce di San Francisco, para pemimpin industri berdebat tentang percepatan pengembangan model AI. Sementara itu, para peneliti keamanan siber berhasil melakukan peretasan etis terhadap OpenAI dengan bantuan chatbot Claude dari Anthropic, menyoroti kerentanan yang ada.

Di sisi lain, menjelang pemilu AS, para peneliti menemukan bahwa alat AI populer seperti ChatGPT, Gemini, Grok, dan Meta AI masih dapat dengan mudah dimanipulasi untuk menyebarkan misinformasi pemilu. Temuan ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana pengamanan yang diterapkan pada model AI, termasuk yang digunakan untuk aplikasi hukum.

Dengan Astra for Law, OpenAI menunjukkan bahwa masa depan AI tidak hanya tentang model yang lebih besar, tetapi tentang penyesuaian yang cermat untuk domain profesional. Namun, tantangan seputar akurasi, privasi, dan keamanan tetap menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan sebelum AI benar-benar dapat diandalkan di ruang sidang.

Mungkin Anda Suka