Fokus Surabaya – JAKARTA – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya potongan video yang diklaim memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin mempertanyakan keputusan Presiden RI Prabowo Subianto terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Video tersebut tersebar luas di berbagai platform seperti Instagram, Facebook, Threads, TikTok, dan X, dengan narasi yang menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026.
Dalam konten yang beredar, Putin digambarkan menanyakan alasan Indonesia bergabung dengan BoP yang melibatkan Israel, sementara Prabowo dinilai tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Narasi ini sontak memicu perdebatan di kalangan warganet, terutama karena BoP sendiri merupakan badan internasional yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk rekonstruksi Gaza pascakonflik, dan keikutsertaan Indonesia di dalamnya telah menuai kritik luas di dalam negeri.
Namun, penelusuran fakta yang dilakukan oleh Tim Cek Fakta Tempo menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak benar. Video yang beredar merupakan potongan dari sesi dialog yang telah dipotong secara menyesatkan. Berdasarkan rekaman utuh berdurasi hampir 3,5 jam yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden RI, sesi dialog tersebut dimoderatori oleh editor ekonomi TV RBC, Kirill Tokarev, dan berlangsung dalam bahasa Rusia serta Inggris.
Dalam sesi yang berlangsung sekitar 30 menit itu, moderator mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Presiden Prabowo setelah ia menyampaikan pidato. Pertanyaan-pertanyaan tersebut secara umum berfokus pada hubungan Indonesia dengan blok Barat dan Timur yang memiliki kepentingan berbeda. Prabowo menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam bahasa Inggris. Tidak ada satu pun pertanyaan yang menyinggung soal keanggotaan Indonesia di Board of Peace.
Faktanya, isu BoP sama sekali tidak muncul dalam dialog tersebut. Potongan video yang beredar di media sosial hanya mengambil sebagian kecil dari sesi dialog, kemudian dikaitkan dengan narasi palsu untuk membentuk opini tertentu. Pola penyebaran konten semacam ini kerap digunakan untuk memancing reaksi emosional publik, terutama di tengah isu sensitif seperti keterlibatan Indonesia dalam forum internasional yang melibatkan Israel.
Board of Peace sendiri merupakan badan yang dibentuk untuk mengawal rekonstruksi Gaza setelah konflik berkepanjangan. Keanggotaan Indonesia dalam badan ini telah menjadi sorotan, dengan sejumlah pihak menilai bahwa BoP tidak dirancang sebagai instrumen perdamaian yang kredibel. Kritik tersebut muncul dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga organisasi masyarakat sipil, yang mempertanyakan efektivitas dan netralitas forum tersebut.
Meski demikian, klaim bahwa Putin mempertanyakan keputusan Prabowo secara langsung dalam forum EEF adalah tidak berdasar. Tidak ada bukti dalam rekaman resmi yang menunjukkan hal tersebut. Sebaliknya, hubungan antara Indonesia dan Rusia justru ditandai dengan semangat persahabatan yang erat. Dalam beberapa kesempatan, Putin bahkan menyampaikan penghargaan terhadap Indonesia sebagai sahabat lama yang selalu dikenang.
Reaksi Putin saat Prabowo mengenang sejarah hubungan RI-Rusia menjadi momen penting yang menunjukkan kedekatan kedua negara. Dalam forum tersebut, Prabowo menyebutkan betapa Rusia telah menjadi sahabat Indonesia sejak lama, dan Putin merespons dengan hangat, menegaskan bahwa Rusia tidak pernah melupakan sahabatnya. Momen ini memperlihatkan bahwa hubungan bilateral kedua negara berada dalam kondisi yang baik, terlepas dari isu-isu global yang berkembang.
Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menerima informasi di media sosial. Verifikasi terhadap setiap konten yang beredar menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hoaks yang dapat merusak citra pemerintah dan hubungan internasional. Cek fakta tidak hanya sekadar membandingkan potongan video, tetapi juga menelusuri konteks lengkap dari peristiwa yang sesungguhnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa klaim mengenai Putin yang mempertanyakan Prabowo soal Board of Peace adalah informasi menyesatkan. Video yang beredar telah dipotong dan dikaitkan dengan narasi yang tidak sesuai dengan fakta. Publik diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh konten semacam ini dan selalu mengandalkan sumber-sumber terpercaya dalam memahami isu-isu kenegaraan.








