Dunia

Tragedi Helikopter Pemadam Karhutla Tabrakan di Udara, Dua Kru Tewas di Yosemite

Tragedi Helikopter Pemadam Karhutla Tabrakan di Udara, Dua Kru Tewas di Yosemite
Tragedi Helikopter Pemadam Karhutla Tabrakan di Udara, Dua Kru Tewas di Yosemite
A− A+

Fokus Surabaya – Insiden memilukan menimpa upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Amerika Serikat. Sebuah helikopter pemadam karhutla mengalami tabrakan di udara dan jatuh saat beroperasi di Taman Nasional Yosemite, California, pada Minggu sore waktu setempat. Dua kru yang berada di dalam helikopter tersebut dilaporkan tewas di lokasi kejadian.

Helikopter jenis Eurocopter AS32 itu jatuh sesaat sebelum pukul 15.00 waktu setempat. Menurut Administrasi Penerbangan Federal (FAA), helikopter tersebut dikontrak oleh Dinas Kehutanan AS (Forest Service) untuk membantu Price Valley Rappel Crew dari Idaho. Saat kejadian, helikopter sedang menjalankan operasi pemadaman pada kebakaran Dome Fire di kawasan Yosemite.

Baca juga:

Perusahaan penerbangan Precision, LLC, yang dikenal sebagai Flyprecision, mengumumkan kabar duka tersebut pada Minggu. “Kami sangat terpukul atas kehilangan ini dan kesulitan menemukan kata-kata yang tepat,” ujar perusahaan dalam pernyataan resminya. Salah satu korban telah diidentifikasi sebagai Greg King, seorang pilot Precision Helicopters. Identitas korban kedua belum dirilis secara resmi.

Juru bicara Dinas Kehutanan AS, Adrienne Freeman, menyatakan bahwa kedua korban merupakan satu-satunya orang yang berada di dalam helikopter saat kecelakaan terjadi. FAA dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) akan menyelidiki penyebab kecelakaan. NTSB menyebut laporan awal akan diterbitkan dalam 30 hari, namun penyelidik belum tiba di lokasi karena kondisi kebakaran yang masih berbahaya. Dinas Kehutanan AS juga akan melakukan penyelidikan internal.

Sementara itu, kebakaran Dome Fire terus meluas. Pada Sabtu malam, api membakar 114 hektare, dan hingga Senin pagi telah menghanguskan 1.303 hektare dengan tingkat pengendalian baru mencapai 15 persen. Upaya pemadaman dari udara dan darat masih terus dilakukan meski dihadapkan pada medan yang sulit.

Insiden ini menjadi pengingat keras akan risiko yang dihadapi para kru pemadam kebakaran, baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia. Di Tanah Air, pemerintah tengah menggencarkan operasi pemadaman karhutla yang melanda sejumlah provinsi. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa sejak Agustus, sebanyak 64 pesawat telah dikerahkan untuk water bombing, didukung 54.394 personel gabungan.

Baca juga:

“Dari udara hingga darat, seluruh kekuatan terus bergerak. Semua dilakukan untuk memadamkan api, mengurangi dampak asap, dan yang terpenting, melindungi masyarakat dari ancaman karhutla,” kata Teddy dalam keterangan resminya, Ahad, 20 September 2026. Armada udara tersebut terdiri dari 55 pesawat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan 9 pesawat TNI, mencakup helikopter water bombing, helikopter patroli, serta pesawat pendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Personel gabungan yang dikerahkan meliputi TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, BNPB, BPBD, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat. Sebaran personel terbesar berada di Kalimantan Barat (14.759 orang), Riau dan Kepulauan Riau (14.382 orang), Sumatera Selatan (11.026 orang), Jambi (5.984 orang), Kalimantan Tengah (4.686 orang), serta Kalimantan Selatan (3.557 orang).

Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan hingga Ahad, 20 September 2026 pukul 23.59 WIB, terdeteksi 1.532 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional, meningkat 209 titik dari 1.323 titik pada Sabtu. Sebaran hotspot terbanyak berada di Kalimantan Tengah (968 titik), Sumatera Selatan (285 titik), Kalimantan Barat (98 titik), Kalimantan Selatan (39 titik), Jambi (26 titik), dan Riau (1 titik).

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pengerahan armada udara dilakukan secara dinamis berdasarkan kondisi kebakaran, verifikasi hotspot, potensi awan, jarak pandang, dan aspek keselamatan penerbangan. “Pemerintah saat ini mengerahkan 55 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla di Sumatera dan Kalimantan,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Baca juga:

Meski tantangan di lapangan tidak ringan, terutama akibat luasnya wilayah dan kondisi lahan gambut yang sulit, pemerintah berkomitmen terus melakukan upaya pemadaman tanpa henti. Koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak karhutla.

Kecelakaan helikopter di Yosemite dan kerja keras ribuan personel di Indonesia menyoroti satu hal yang sama: bahaya nyata yang dihadapi para petugas pemadam kebakaran. Setiap operasi udara maupun darat mengandung risiko tinggi. Karena itu, aspek keselamatan penerbangan dan prosedur operasi standar harus selalu menjadi prioritas utama, agar tragedi serupa tidak terulang. Dedikasi para kru dan personel di lapangan patut diapresiasi sebagai bentuk pengabdian dalam melindungi lingkungan dan masyarakat dari ancaman karhutla.

Mungkin Anda Suka