Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp16.540, Gubernur BI Destry Damayanti Beberkan Strategi di Baliknya

Rupiah Menguat ke Rp16.540, Gubernur BI Destry Damayanti Beberkan Strategi di Baliknya
Rupiah Menguat ke Rp16.540, Gubernur BI Destry Damayanti Beberkan Strategi di Baliknya
A− A+

Fokus Surabaya – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin (28/9/2026). Rupiah menguat 56 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.540 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sebelumnya Rp16.596 per dolar AS. Penguatan ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan global yang masih membayangi perekonomian nasional.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh fundamental ekonomi, terutama neraca pembayaran dan neraca transaksi berjalan. “Kalau defisit, permintaan jauh lebih besar dari penawaran. Ini kenapa kami kembali menekankan fundamental ekonomi karena sangat berpengaruh. Kalau defisitnya makin lebar, kita harus jor-joran melakukan kebijakan, dan itu tidak akan sustain,” ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senin (28/9/2026).

Baca juga:

Pernyataan tersebut merespons dorongan DPR yang menilai BI harus memperkuat nilai tukar rupiah. Wakil Ketua Komisi XI DPR, Dolfie, mendesak agar BI di bawah kepemimpinan Destry mampu memastikan rupiah bergerak menguat sesuai fundamental. Ia menyoroti bahwa selama 25 tahun terakhir, stabilitas yang dicapai cenderung stabil dalam pelemahan, bukan penguatan. “APBN menetapkan Rp16.500 per dolar AS, jebol menjadi Rp17.900 hari ini. Tahun 2027 kita sudah sepakati Rp17.500 per dolar AS, ini akan tidak jelas kalau masih pakai teori volatilitas BI,” tegas Dolfie.

Tekanan Global dan Strategi BI

Destry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian. Kebijakan moneter negara maju yang ketat, fenomena higher for longer, serta penguatan dolar AS menjadi faktor utama. Indeks dolar AS (DXY) tercatat di level 101,11, sementara indeks dolar terhadap mata uang Asia di level 96,26. “Terjadi flight to quality, di mana tekanan ini juga masuk ke payment system dan exchange rate stabilization,” jelasnya.

Selain itu, harga minyak dunia melonjak ke US$125,53 per barel pada 24 September 2026, menambah risiko eksternal yang berpotensi memicu inflasi dan menekan neraca eksternal. The Fed juga baru saja menaikkan suku bunga 25 basis poin, dan diperkirakan masih ada satu kali kenaikan lagi di kuartal IV. “Ini membuat dolar menguat dan terjadi capital flight dari emerging market kembali ke developed market, khususnya AS, karena risk-off,” tambah Destry.

Baca juga:

Untuk meredam tekanan tersebut, BI tidak hanya mengandalkan suku bunga. Bank sentral menggunakan instrumen lindung nilai (hedging) untuk mendorong masuknya aliran modal ke pasar keuangan domestik. “Kami memberikan targeted hedging incentive untuk mendorong inflow. Bukan general policy rate, tapi targeted hedging incentive. Setelah kurang lebih satu bulan, kami sudah melihat inflow sekitar US$6 miliar melalui BNPF ataupun swap,” ungkap Destry.

BI juga memperkuat intervensi valuta asing melalui transaksi NDF di pasar offshore, serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Selain itu, BI memperluas kerja sama Local Currency Transaction dengan negara mitra untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, serta menambah likuiditas mata uang lokal seperti yuan dan yen di pasar uang dan valuta asing. Suku bunga acuan BI-Rate dipertahankan di level 5,75 persen.

Dampak ke Daerah dan APBN

Di tingkat daerah, penguatan rupiah diharapkan memperkuat daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas usaha. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kediri, misalnya, terus mengawal setiap rupiah APBN melalui digitalisasi pengelolaan keuangan publik. Penggunaan Cash Management System (CMS), Kartu Kredit Pemerintah (KKP), dan marketplace Digipay berhasil memangkas birokrasi pembayaran dan menjaga perputaran arus kas vendor UMKM daerah.

Baca juga:

KPPN Kediri mencatatkan Indeks Digitalisasi Pengelolaan Keuangan mencapai nilai sempurna 5,00, serta Indeks Kualitas Penyelesaian SP2D sebesar 5,00. Nilai Kinerja Penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) juga mencapai 99,61 dari target 90,00. Penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik mencapai Rp301,84 miliar (93,72 persen) dari pagu Rp322,08 miliar, sedangkan Dana Desa tersalurkan Rp825,30 miliar (99,90 persen) dari pagu Rp826,11 miliar ke 758 desa di Kabupaten Kediri, Nganjuk, dan Trenggalek. Akurasi perencanaan kas menembus 99,08 persen, jauh melampaui target 81 persen.

Dengan sinergi antara kebijakan moneter yang adaptif dan pengelolaan fiskal yang presisi, penguatan rupiah diharapkan tidak hanya bersifat sementara. Keberhasilan menjaga stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada perbaikan fundamental ekonomi, terutama penurunan defisit transaksi berjalan, serta konsistensi bauran kebijakan BI dalam menghadapi dinamika global. Penguatan rupiah hari ini menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan investor dan menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Mungkin Anda Suka