Fokus Jepara – Pidato berbahasa Arab yang disampaikan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Miftachul Akhyar, pada penutupan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Bangkalan menuai kritik dari seorang penulis yang mengaku menyimak siaran langsung melalui kanal NU Online, HRM Khailur R Abdullah Sahlawy.
Penulis tersebut menelaah isi pidato karena memiliki latar belakang pendidikan di MAN Program Keagamaan (MAN-PK) serta pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Denanyar. Ia menyatakan bahwa sebagian materi pidato, termasuk kutipan hadis mengenai kemakmuran sebuah negeri yang dipimpin secara adil, diduga berasal dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali.
Menurutnya, selama penyampaian pidato berdurasi sekitar 16 menit 25 detik, tidak terdapat penyebutan sumber maupun nama kitab yang menjadi rujukan. Berdasarkan pengamatannya, penulis mempertanyakan praktik tersebut dan menilai penyebutan sumber seharusnya dilakukan ketika mengutip karya ilmiah atau kitab.
Selain menyoroti aspek sumber rujukan, penulis juga mengkritisi pelafalan bahasa Arab dalam pidato tersebut. Ia mengklaim menemukan sejumlah kekeliruan, yang terdiri atas kesalahan penyebutan angka, harakat, dan lafal. Salah satu yang disoroti ialah penyebutan tahun 1448 Hijriah pada menit 2:01:47.
Penulis juga menyebut terdapat empat kesalahan harakat, antara lain pada frasa badzlul wus’i, penggunaan kata wa mallakahum, bentuk jamak azimmat, penggunaan kata jaizan, serta bentuk kata aninha. Menurutnya, bentuk-bentuk tersebut lebih sesuai dengan kaidah nahwu dan sharaf dibandingkan pelafalan yang disampaikan dalam pidato.
Selain itu, ia mengklaim menemukan dua kesalahan lafal, yakni pada frasa yang menurutnya seharusnya berbunyi li hifzhil ‘ibad dan al-umur al-sirriyyah, setelah mencocokkannya dengan teks dalam kitab Nasihatul Muluk.
Penulis tersebut menyarankan agar dalam penyampaian pidato, terutama dalam bahasa Arab, perlu dilakukan dengan hati-hati dan teliti untuk menghindari kesalahan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menyebutkan sumber rujukan dengan jelas untuk menghindari plagiarisme dan mempertahankan kredibilitas.
Kritik tersebut tentunya menjadi peringatan bagi para pemimpin dan tokoh agama untuk lebih teliti dalam menyampaikan pidato, terutama dalam bahasa Arab. Dengan demikian, kredibilitas dan keabsahan pesan yang disampaikan dapat dipertahankan.





