A− A+

Fokus Jepara – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, 22 Mei 2026, diperkirakan akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah. Para pengamat ekonomi memprediksi bahwa rupiah akan berada dalam rentang Rp 17.660 hingga Rp 17.710 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah kebijakan moneter yang lebih ketat setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan.

Menurut Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, sentimen domestik dan global masih membayangi pergerakan mata uang rupiah. Meskipun ada langkah pengetatan dari BI, kondisi ini tidak cukup untuk mengangkat nilai tukar rupiah. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 0,40% ke level Rp 17.670, sejalan dengan depresiasi mata uang Asia lainnya.

Baca juga:

Pelemahan rupiah ini juga dipengaruhi oleh sentimen risk-off yang mendominasi pasar keuangan domestik. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa tekanan jual di pasar ekuitas domestik turut memperburuk situasi rupiah. Pelaku pasar menyoroti adanya kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan pemerintah terkait ekspor komoditas strategis yang dapat mempengaruhi regulasi dan kontrol negara terhadap sektor swasta.

Sementara itu, dalam konteks global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan prospek harga minyak yang tidak menentu juga menjadi faktor yang mempengaruhi nilai tukar. Investor cenderung beralih ke aset aman seperti dolar AS, yang semakin memperberat posisi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Pada hari ini, pasar juga menantikan rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia untuk kuartal I/2026. Diperkirakan akan ada defisit yang lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya, sekitar US$0,8 miliar. Data ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi perekonomian Indonesia ke depannya.

Baca juga:

Di sisi lain, meskipun nilai tukar rupiah mengalami tekanan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan berada dalam tren positif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa turunnya nilai tukar rupiah tidak berkorelasi langsung dengan pergerakan IHSG yang masih menunjukkan performa baik. Menurutnya, adanya koreksi di pasar saham adalah hal yang wajar dan tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang buruk.

Dengan demikian, para pelaku pasar diharapkan tetap cermat dalam menghadapi volatilitas yang ada. Kenaikan BI rate dan kebijakan baru pemerintah terkait ekspor akan terus menjadi perhatian bagi investor, yang harus memperhitungkan risiko dan peluang di tengah ketidakpastian ini.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: