Fokus Jepara – Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah berlanjut selama beberapa bulan, dan tampaknya tidak ada penyelesaian dalam waktu dekat. Presiden AS Donald Trump telah kehilangan kesabaran dan memilih jalur militer untuk menghadapi Iran. Trump mengklaim bahwa Iran hanya memahami kekuatan militer dan tidak tertarik untuk melakukan negosiasi damai.
Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump awalnya memperkirakan konflik dengan Iran dapat berakhir hanya dalam hitungan pekan. Namun, perang terus berlanjut tanpa tanda-tanda penyelesaian. Dalam sebuah pertemuan di Ruang Oval, Trump bahkan melontarkan kemarahan kepada para pemimpin Iran dengan menyebut mereka menggunakan kata-kata kasar.
Para penasihat Trump khawatir perang yang berkepanjangan mulai membebani pemerintahannya. Konflik itu disebut telah memicu kenaikan harga energi, menurunkan tingkat dukungan publik terhadap Trump, serta menewaskan lebih dari selusin personel militer AS. Kondisi tersebut juga dinilai dapat memperburuk peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu mendatang.
Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan AS dan disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi saat berkunjung ke Teheran. Penolakan ini terjadi di tengah baku tembak antara Iran dan AS yang telah berlangsung hampir dua minggu. Kabar tersebut pertama kali diwartakan oleh New York Times mengutip pejabat Iran dan Irak.
Trump mengancam akan menggempur lokasi material nuklir Iran dengan kekuatan militer sangat besar. Serangan balasan AS merusak kesepakatan damai yang sebelumnya telah dimediasi oleh Pakistan. Pemerintah Amerika Serikat menutup pintu diplomasi formal dan memilih bersiap melancarkan aksi militer masif ke objek vital nuklir Iran.
Langkah tegas ini diambil lantaran Washington menilai Teheran belum menunjukkan iktikad serius untuk menghentikan ambisi persenjataan nuklirnya. Sikap tanpa kompromi tersebut ditegaskan Presiden Donald Trump saat menerima kunjungan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih.
Trump mengklaim bahwa pihak lawan sebenarnya sangat berhasrat membuka kembali pintu negosiasi dengan pemerintahannya. Namun, ia memilih acuh jika pembicaraan tersebut tidak memuat tawaran konkret serta penyelesaian yang substansial. “Mereka sangat ingin bertemu, dan sampai mereka siap bertemu dengan cara yang bermakna, kami sama sekali tidak tertarik,” kata Trump.








