Daftar Isi
Fokus Surabaya – Ketegangan di kawasan Indo-Pasifik kembali memanas setelah China dilaporkan melakukan uji coba rudal dari kapal selam nuklirnya. Langkah tersebut memicu reaksi cepat dari Jepang dan Australia yang menilai aksi Beijing berpotensi mengganggu stabilitas keamanan regional.
Uji coba ini menjadi perhatian dunia karena berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas militer sejumlah negara di Asia Timur. Jepang dan Australia, dua sekutu dekat Amerika Serikat, menyatakan akan terus memantau perkembangan dan memperkuat kerja sama pertahanan.
Modernisasi Alat Perang China
China memang tengah gencar memodernisasi persenjataannya. Selain kapal selam nuklir, citra satelit yang beredar pekan ini menunjukkan sebuah kapal besar yang sedang dibangun di galangan Hudong-Zhonghua, Shanghai. Kapal itu diduga dirancang khusus sebagai induk bagi kendaraan bawah air tanpa awak berukuran sangat besar atau extra-extra large uncrewed underwater vehicle (XXLUUV).
Bentuk dan konfigurasi kapal tersebut berbeda dari kapal permukaan konvensional. Bagian buritan memiliki struktur menyerupai well-deck besar, tetapi tidak disusun seperti kapal pendarat amfibi. Di bawahnya terdapat dudukan berukuran besar yang dapat diturunkan langsung ke air. Sebanyak 12 lengan vertikal jenis jack-up diperkirakan berfungsi menaikkan dan menurunkan dudukan itu.
Di depan well-deck terdapat hanggar internal berukuran besar. Berdasarkan dimensi ruang tersebut, kapal itu diperkirakan mampu membawa sekitar empat kendaraan bawah air raksasa atau lebih banyak drone berukuran lebih kecil. Pemerintah China maupun Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China belum mengumumkan nama, klasifikasi, ataupun fungsi kapal tersebut.
Reaksi Jepang dan Australia
Jepang dan Australia menyatakan keprihatinan mendalam atas uji coba rudal dari kapal selam nuklir China. Kedua negara menilai aksi tersebut dapat memicu perlombaan senjata di kawasan. Mereka menegaskan komitmen untuk menjaga kebebasan navigasi dan stabilitas di perairan Indo-Pasifik.
Reaksi serupa juga datang dari Korea Selatan dan Amerika Serikat yang terus memantau pergerakan militer China. Latihan bersama trilateral antara Korea Selatan, Jepang, dan AS baru saja digelar di perairan sekitar Pulau Jeju. Latihan itu menjadi sinyal kesiapan menghadapi ancaman dari berbagai pihak.
Dinamika Militer di Semenanjung Korea
Di saat yang sama, Korea Utara juga meningkatkan aktivitas militernya. Pyongyang menggelar latihan serangan daya tembak gabungan dengan amunisi sungguhan pada Sabtu, 12 September 2026. Latihan itu melibatkan lima unit militer dan menguji berbagai jenis drone serang, rudal jelajah taktis, rudal balistik taktis, serta peluncur roket multipel berkaliber besar.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan melaporkan sejumlah rudal balistik jarak pendek ditembakkan dari wilayah Wonsan sekitar pukul 05.20 waktu setempat. Rudal-rudal itu terbang sekitar 250 kilometer sebelum jatuh ke Laut Timur. Otoritas intelijen Korea Selatan dan AS memantau pergerakan tersebut sejak awal dan berbagi informasi dengan Jepang.
Peluncuran terbaru Korea Utara terjadi setelah Seoul, Washington, dan Tokyo menyelesaikan latihan Freedom Edge selama lima hari. Latihan itu digelar di perairan internasional di sebelah timur dan selatan Pulau Jeju. Sebelumnya, Seoul dan Washington telah mengurangi skala latihan gabungan tahunan Ulchi Freedom Shield setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengurangan latihan militer bersama.
Peta Ketegangan Kawasan
Berikut sejumlah perkembangan militer yang mewarnai kawasan Asia Timur dalam sepekan terakhir:
- China melakukan uji coba rudal dari kapal selam nuklir dan diduga membangun kapal induk drone kapal selam pertama di dunia.
- Jepang dan Australia bereaksi keras dan memperkuat kerja sama pertahanan.
- Korea Utara menggelar latihan serangan daya tembak gabungan dengan amunisi sungguhan.
- Korea Selatan, Jepang, dan AS menyelesaikan latihan trilateral Freedom Edge.
Sejumlah pengamat menilai dinamika ini menunjukkan bahwa kawasan Indo-Pasifik sedang memasuki fase baru persaingan kekuatan. Setiap langkah militer satu negara akan memicu respons dari negara lain. Diplomasi dan komunikasi antarnegara menjadi kunci untuk mencegah eskalasi yang tidak diinginkan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Beijing terkait uji coba rudal dari kapal selam nuklir maupun proyek kapal induk drone kapal selam. Namun, berbagai analisis sumber terbuka terus berkembang seiring munculnya citra satelit dan data teknis baru.
Ketegangan di Asia Timur diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Masyarakat internasional berharap semua pihak menahan diri dan mengutamakan jalur dialog. Stabilitas kawasan hanya dapat terwujud jika setiap negara menghormati hukum internasional dan kepentingan keamanan bersama.









