Nasional

Waspada Bencana 2026: Dari Kekeringan Ponorogo hingga Evakuasi Sekunder Gempa Kumamoto

Daftar Isi
  1. Kekeringan di Ponorogo Meluas, BPBD Distribusikan Air Bersih
  2. Bencana Hidrometeorologi di Sumatera dan Lampung
  3. Pemulihan Pendidikan Pascabencana Sumatera
  4. Pelajaran dari Gempa Kumamoto: Pentingnya Evakuasi Sekunder
  5. Edukasi Kebencanaan Sejak Dini
A− A+

Fokus Surabaya – Jakarta – Rangkaian bencana melanda berbagai wilayah Indonesia dan Jepang sepanjang September 2026, memicu respons cepat dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan. Mulai dari kekeringan ekstrem di Jawa Timur, banjir bandang di Sumatera dan Lampung, hingga gempa di Kumamoto, Jepang, yang menewaskan seorang perempuan akibat sengatan panas saat mengungsi di dalam mobil. Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana besar untuk rehabilitasi sekolah terdampak, sementara para ahli menekankan pentingnya evakuasi sekunder dan kesiapsiagaan dini.

Kekeringan di Ponorogo Meluas, BPBD Distribusikan Air Bersih

Kekeringan yang melanda Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat hingga September 2026, lima desa di lima kecamatan—Bungkal, Pulung, Sampung, Jambon, dan Slahung—mengalami krisis air bersih. Sebanyak 241 keluarga terdampak dan hingga kini masih bergantung pada pasokan air dari dropping BPBD.

Baca juga:

“Berdasarkan data BPBD Ponorogo, hingga September 2026, terdapat lima desa di lima kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih,” ujar Masun, Senin (21/9/2026).

Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran di kawasan pegunungan Kawi sempat meluas ke Gunung Buthak dan lereng Kawinajang, namun kini telah padam. Sementara itu, titik api di Gunung Pitrang, Kabupaten Blitar, masih membara pada Minggu (20/9/2026).

Menghadapi situasi ini, masyarakat diimbau untuk melapor kepada pemerintah daerah atau BPBD setempat jika mengalami kesulitan air bersih. Penggunaan air harus diprioritaskan untuk kebutuhan utama seperti minum, memasak, mandi, dan sanitasi. Air yang masih layak dapat digunakan kembali untuk keperluan lain guna menghemat persediaan.

Bencana Hidrometeorologi di Sumatera dan Lampung

Di Sumatera, banjir bandang (galodo) melanda Solok, Sumatera Barat. Polri menerjunkan personel untuk mencari korban, evakuasi, dan pembersihan material guna memastikan keselamatan warga. Aksi tanggap bencana ini juga melibatkan tim SAR gabungan.

Sementara itu, di Lampung, tanggul Sungai Belu di Tanggamus jebol dan memicu banjir susulan. BPBD Lampung mewaspadai banjir lanjutan yang dapat merendam permukiman. Banjir bandang juga melanda empat desa di Kotaagung Barat, Lampung, merusak rumah dan lahan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.

Pemulihan Pendidikan Pascabencana Sumatera

Pemerintah mempercepat pemulihan sektor pendidikan di tiga provinsi terdampak bencana Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk merehabilitasi dan merekonstruksi 4.922 sekolah.

Baca juga:

Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Satuan Tugas Rehabilitasi-Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengapresiasi langkah cepat tersebut. “Beliau menggunakan anggaran dari reguler ditambah dengan dari Kementerian Keuangan tambahan yang totalnya lebih kurang Rp5 triliunan, dan itu digunakan untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi 4.922 sekolah tiga provinsi,” kata Tito dalam konferensi pers, Rabu (23/9).

Proses rehabilitasi diperkirakan memakan waktu hingga tiga tahun karena skala kerusakan yang masif. Sebagian sekolah dikerjakan secara swakelola, sementara sebagian lain melibatkan TNI Angkatan Darat. Saat ini, beberapa sekolah telah rampung 100 persen, sebagian berada di kisaran 70-99 persen, dan 616 sekolah masih di bawah 50 persen.

Pelajaran dari Gempa Kumamoto: Pentingnya Evakuasi Sekunder

Di Jepang, gempa yang melanda Prefektur Kumamoto pada Juli 2026 menjadi sorotan terkait evakuasi sekunder. Seorang perempuan yang mengungsi di dalam mobilnya meninggal karena diduga terkena sengatan panas. Insiden ini menegaskan pentingnya evakuasi sekunder ke tempat penampungan ber-AC atau hotel untuk mencegah kematian akibat bencana.

Prefektur Kumamoto menyediakan 148 fasilitas akomodasi untuk evakuasi sekunder. Namun, dua pekan setelah bencana, hanya sekitar 15 persen pelamar yang mendapatkan tempat. Banyak korban menginginkan akomodasi dekat rumah agar tetap bisa bekerja atau membersihkan puing, tetapi hotel-hotel di sekitar tutup akibat krisis air dan dampak bencana lain.

Sugano Taku, Lektor Kepala di Universitas Metropolitan Osaka yang berspesialisasi dalam dukungan penyintas bencana, menekankan pentingnya identifikasi dini terhadap kelompok rentan. “Pihak berwenang setempat sangat perlu mengidentifikasi orang-orang terdampak dan mengumpulkan informasi tentang keadaan mereka sejak tahap awal bencana, lalu membagikannya kepada organisasi terkait agar tidak ada yang terabaikan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan berulang dapat membebani fisik lansia dan mereka yang membutuhkan perawatan medis. Sugano merekomendasikan evakuasi dilakukan bersama orang lain agar dapat saling merespons jika kondisi memburuk.

Baca juga:

Edukasi Kebencanaan Sejak Dini

Di Klaten, Jawa Tengah, Daarut Tauhiid (DT) Peduli Solo menggelar Program Pendidikan Aman Bencana di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Sajen, Kecamatan Trucuk. Kegiatan yang diikuti ratusan siswa ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan generasi muda terhadap potensi bencana.

Para siswa mendapatkan pengetahuan tentang kebencanaan, langkah darurat, dan pentingnya kepedulian sosial. Kegiatan ditutup dengan penggalangan infak untuk mendukung Program Respon Kekeringan di Solo Raya. “Mari bersama-sama menciptakan sekolah yang lebih aman, tangguh, dan peduli terhadap sesama,” ucap perwakilan DT Peduli Solo.

BMKG juga telah memprediksi awal musim hujan 2026/2027 yang diperkirakan dimulai November 2026 dengan puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama periode tersebut.

Dari kekeringan di Ponorogo hingga gempa di Kumamoto, pelajaran yang sama terus bergema: kesiapsiagaan, evakuasi yang tepat, dan solidaritas lintas sektor adalah kunci mengurangi risiko bencana. Pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat harus bergandengan tangan membangun budaya sadar bencana, tidak hanya saat darurat tetapi juga dalam perencanaan jangka panjang.

Mungkin Anda Suka