Pendidikan

Kisah Haru Adi Remaja Ciamis: Antara Bangun Pagi dan Bekerja untuk Keluarga

Kisah Haru Adi Remaja Ciamis: Antara Bangun Pagi dan Bekerja untuk Keluarga
Kisah Haru Adi Remaja Ciamis: Antara Bangun Pagi dan Bekerja untuk Keluarga
A− A+

Fokus Jepara – Di balik kemajuan ekonomi dan perkembangan kota, masih banyak anak-anak yang harus menghabiskan masa kecilnya di jalanan, bukan di taman bermain atau tempat belajar. Mereka bekerja sebagai pengamen, pemulung, penjual kerupuk, atau bahkan manusia silver demi membantu orangtua memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu kisah haru datang dari Adi, remaja Ciamis yang harus bangun pagi setiap hari untuk membantu keluarganya. Adi mulai hari dengan bangun jam 2 pagi untuk mengantar sembako sebelum berangkat ke sekolah. Setelah pulang sekolah, Adi tidak langsung bermain dengan teman-temannya, melainkan membantu orangtuanya dengan bekerja.

Baca juga:

Kisah Adi tidak sendiri. Banyak anak-anak lain yang juga mengalami hal serupa. Rizky, bocah kelas enam sekolah dasar, setiap sore mengamen di lampu merah di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, setelah pulang sekolah. Rizky mengatakan bahwa dia mulai mengamen sekitar pukul 16.00 WIB dan beristirahat sejenak di rumah sebelum kembali ke jalanan.

Mereka menjadi contoh anak-anak yang harus mempertahankan bangku sekolah sambil bekerja demi membantu keluarga. Mereka tidak memiliki pilihan lain selain bekerja karena keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan.

Baca juga:

Kisah-kisah seperti ini mengingatkan kita tentang pentingnya mendukung anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, kita dapat membantu mereka membangun masa depan yang lebih cerah dan mengurangi kemiskinan di kalangan anak-anak.

Baca juga:

Mungkin Anda Suka