News

Pejabat Rusia Prediksi Akan Lahir Senjata Non-Nuklir Berdaya Hancur Seperti Nuklir

Pejabat Rusia Prediksi Akan Lahir Senjata Non-Nuklir Berdaya Hancur Seperti Nuklir
Pejabat Rusia Prediksi Akan Lahir Senjata Non-Nuklir Berdaya Hancur Seperti Nuklir
A− A+

Fokus Jepara – Pejabat Rusia memprediksi bahwa akan lahir senjata non-nuklir berdaya hancur seperti nuklir. Prediksi ini muncul setelah Rusia getol mengerahkan drone kamikaze Shahed bermesin jet. Drone ini diklaim mampu melaju hingga 370 kilometer per jam, meningkat dari 310 kilometer per jam pada model sebelumnya.

Perusahaan pertahanan Barat siap menghadapi ancaman ini dengan mengembangkan pencegat berkecepatan tinggi. Produsen drone Ukraina, SkyFall, memperkenalkan pencegat terbaru bernama P1-SUN Jetkiller. Sistem pertahanan ini disebut lebih cepat dari pencegat mereka yang sudah dipakai di Ukraina sejak akhir tahun lalu.

Baca juga:

Sementara itu, China telah berhasil melakukan uji coba Submarine-Launched Ballistic Missile (SLBM) berkemampuan nuklir jarak jauh. Keberhasilan ini menegaskan bahwa modernisasi militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah mencapai tingkat kematangan pertahanan yang sangat mematikan.

SLBM menempati kasta tertinggi dalam arsitektur Triad Nuklir karena memiliki tingkat kelangsungan hidup (survivability) dan kerahasiaan (stealth) yang hampir mutlak di kedalaman samudera. Berbeda dengan instalasi rudal berbasis darat (ICBM) atau pembom strategis di udara yang pergerakannya mudah diendus oleh satelit pengintai beresolusi tinggi, SSBN (Ship Submersible Ballistic Nuclear) bertindak sebagai benteng bergerak yang tidak mudah dilacak.

Baca juga:

Keberhasilan China meluncurkan rudal dengan lintasan penuh (full-range trajectory) menembus perairan Pasifik Barat mengonfirmasi bahwa Beijing kini memegang kartu truf strategis yang setara dengan Washington dan Moskow. Selama beberapa dekade, doktrin nuklir China bertumpu pada konsep “penangkalan minimum” (minimum deterrence) dengan postur defensif yang tegas menyatakan tidak akan menjadi pihak pertama yang menggunakan senjata nuklir (No First Use).

Kesimpulan dari perkembangan ini adalah bahwa peperangan modern telah memasuki fase yang sangat berbeda. Dengan kemajuan teknologi, ancaman keamanan telah meningkat, dan negara-negara harus siap menghadapi tantangan ini dengan mengembangkan teknologi pertahanan yang lebih canggih.

Baca juga:

Mungkin Anda Suka