A− A+

Fokus Jepara – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa ekonomi Indonesia masih kuat meskipun banyak protes soal ekonomi di media sosial. Ia menegaskan bahwa data pertumbuhan ekonomi 5,61 persen serta surplus neraca perdagangan berkelanjutan sebagai bukti stabilitas ekonomi nasional yang nyata.

Purbaya juga memaparkan bahwa kinerja Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur yang tumbuh 50,0 persen tahunan (year on year/yoy) per Mei 2026, dan data konsumsi masyarakat dari Mandiri Spending Index (MSI) ada di level 123,2 per Mei 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga masih tinggi meskipun ada penurunan ke level 120,9 per Mei 2026.

Baca juga:

Di samping itu, Purbaya mengaku heran karena defisit fiskal Indonesia sangat disorot lembaga pemeringkat global, padahal belum di atas 3 persen, jauh lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain. Ia menilai bahwa Indonesia termasuk yang sangat menjaga disiplin fiskal, tercermin dari defisit APBN yang selalu dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB, dan rasio utang dijaga di bawah 60 persen dari PDB.

Purbaya memprediksi harga minyak mentah melandai pada paruh kedua tahun 2026, sehingga defisit fiskal bisa terus ditekan dan dapat memberikan ruang lebih besar bagi peningkatan transfer ke daerah (TKD) dan Dana Bagi Hasil (DBH) tanpa pemotongan. Ia memastikan pemerintah mengambil tindakan yang tidak menyusahkan ekonomi, serta dapat optimal memberikan ruang di tengah berbagai keterbatasan, salah satunya sorotan dari lembaga internasional terkait transparansi dan kehati-hatian fiskal Indonesia.

Baca juga:

Kesimpulan dari pernyataan Purbaya adalah bahwa ekonomi Indonesia masih kuat dan stabil, meskipun terdapat protes soal ekonomi di media sosial. Ia juga menekankan pentingnya menjaga disiplin fiskal dan mengambil tindakan yang optimal untuk memberikan ruang bagi peningkatan ekonomi.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: