Daftar Isi
Fokus Surabaya – Jakarta — Gelombang kecerdasan buatan (AI) terus mengguncang berbagai sektor kehidupan, mulai dari ekonomi makro, dunia kerja, hingga perangkat konsumen. CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, melontarkan proyeksi mengejutkan bahwa AI berpotensi menggandakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) tahun depan dari sekitar 2 persen menjadi sekitar 4 persen. Pernyataan itu disampaikan Musk melalui platform X, di tengah perdebatan hangat para investor mengenai dampak investasi besar-besaran pada infrastruktur AI terhadap produktivitas ekonomi.
Keyakinan Musk bukan tanpa dasar. Skala belanja modal terkait AI di AS diproyeksi melonjak tajam. Torsten Slok dari Apollo Global Management memperkirakan belanja modal AI di AS dapat mencapai sekitar 3 persen dari PDB setiap tahun pada periode 2027-2029, naik drastis dibandingkan sekitar 0,6 persen tiga tahun sebelumnya. Analis Moody’s bahkan memperkirakan perusahaan teknologi AS dapat membelanjakan hampir USD1 triliun untuk chip dan pusat data pada 2027, jauh melampaui sekitar USD165 miliar yang diperkirakan berasal dari perusahaan teknologi Tiongkok.
Namun, dampak jangka panjang tidak hanya bergantung pada besarnya belanja. Pengalaman era internet pada 1990-an menunjukkan investasi besar tidak selalu langsung menghasilkan peningkatan produktivitas di seluruh perekonomian. Kali ini, sejumlah perusahaan telah menggunakan AI generatif dan agen AI dalam pengembangan perangkat lunak, penelitian, hingga layanan pelanggan. Jika teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas pekerja secara signifikan, dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dapat muncul lebih cepat dibandingkan siklus teknologi sebelumnya.
AI Mulai Mengubah Alur Kerja, Bukan Sekadar Alat Bantu
Perubahan besar juga terjadi di dunia kerja. Teknologi AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi mulai diterapkan langsung dalam alur kerja dan proses bisnis. Hal ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam CIO Summit 2026 di Lombok pada 10 September 2026. Salah satu teknologi yang disorot adalah agentic AI, yang memungkinkan kemampuan AI diterapkan langsung dalam alur kerja, sehingga penggunaannya tidak berhenti pada menjawab pertanyaan atau membantu pekerjaan tertentu.
CTO Devoteam Indonesia, Fauzal Atmodirono, menegaskan bahwa penerapan AI membutuhkan perubahan proses, bukan hanya pelatihan bagi pengguna. “Pelatihan kepada pelanggan tidak mengubah kebiasaan, akan tetapi tahapan dan proseslah yang mengubahnya,” ujarnya. Untuk mendukung hal tersebut, Devoteam Southeast Asia membentuk AWT (Agentic Work Transformation) Tribe yang berfokus membantu pelanggan merancang ulang cara kerja dengan memanfaatkan agentic AI. Selain itu, data real-time menjadi bagian penting, seiring kemitraan Devoteam dengan SingleStore, penyedia platform data real-time. Devoteam juga disebut terpilih sebagai mitra dalam program Gemini Enterprise Transformation (GET) Google Cloud.
Apple Watch Series 12 dan Snap Specs Intelligence: AI Menyentuh Perangkat Harian
Di sisi perangkat konsumen, AI juga menjadi fondasi baru. Apple Watch Series 12 tampil dengan perombakan arsitektur internal besar-besaran. Ditenagai chip S11 terbaru yang mengintegrasikan secure enclave untuk pemrosesan data mikrofon, perangkat ini meningkatkan performa CPU, GPU, dan Neural Engine secara signifikan. Susunan sensor kesehatan dirancang ulang, dengan elektroda EKG yang lebih besar dan konfigurasi fotodioda serta LED optik yang disempurnakan.
Berkat pembaruan tersebut, Apple Watch Series 12 mampu melakukan pemantauan detak jantung terus-menerus dengan jeda pengukuran setiap lima detik, meningkat drastis dari metode sebelumnya yang hanya mengambil sampel setiap lima menit saat pengguna tidak berolahraga. Dalam pengujian terhadap sabuk dada Polar H10, akurasi pemantauan detak jantung Series 12 menunjukkan selisih kurang dari lima denyut per menit. Fitur baru seperti readiness score dan Audio Intelligence, termasuk Live Rewind dan Siri Recap, membuka era baru wearable berbasis AI di sektor kesehatan.
Sementara itu, Snap memperkenalkan Specs Intelligence, asisten AI “antisipatif” yang menjadi fitur utama kacamata augmented reality (AR) Specs generasi baru. Layanan ini juga tersedia sebagai aplikasi khusus di perangkat desktop dan seluler bagi pengguna tanpa kacamata Specs. Specs Intelligence diklaim mampu membangun pemahaman mengenai tujuan, prioritas, hubungan, serta rutinitas pengguna berdasarkan aplikasi dan perangkat yang mereka hubungkan. Pendekatan ini menyerupai konsep asisten AI yang tengah dikembangkan perusahaan teknologi lain.
AI di Ujung Jari: Hypic Photo Editor dan Ekonomi Kreator
Di ranah aplikasi kreatif, Hypic Photo Editor buatan ByteDance telah diunduh lebih dari 10 juta kali di Google Play Store. Aplikasi ini memadukan kemudahan antarmuka dengan teknologi AI untuk menghasilkan olahan visual estetik. Fitur seperti Magic Eraser, Auto Fill, Retouch wajah, dan Selective Enhance memungkinkan pengguna menyunting foto dalam waktu sekitar lima menit tanpa perlu mempelajari teknik rumit. Tersedia versi gratis dan langganan Pro dengan harga terjangkau, aplikasi ini menjadi salah satu penyunting gambar terpopuler di kalangan pembuat konten digital.
Kesimpulan
Dari proyeksi ekonomi makro Elon Musk hingga perangkat wearable dan aplikasi penyunting foto, AI telah menjadi kekuatan yang mengubah lanskap ekonomi, dunia kerja, dan gaya hidup. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan berdampak, melainkan seberapa cepat dan seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan. Investasi besar di infrastruktur AI, adopsi agentic AI di perusahaan, serta inovasi perangkat konsumen menunjukkan bahwa era AI bukan lagi masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung hari ini.









